IHSG Dibuka Melemah ke 5.873, Investor Waspadai Sinyal The Fed dan Gejolak Global

KurasiNews.com – Pergerakan pasar saham Indonesia kembali menjadi sorotan pelaku investasi pada Kamis (25/6/2026). Setelah sempat menunjukkan tanda-tanda pemulihan dalam beberapa sesi perdagangan terakhir, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) justru membuka perdagangan di zona merah. Pelemahan ini terjadi di tengah meningkatnya kewaspadaan investor terhadap berbagai sentimen global yang berpotensi memengaruhi arah pasar keuangan.

Di tengah ketidakpastian ekonomi dunia, investor kini menghadapi sejumlah faktor yang saling tarik-menarik. Di satu sisi, meredanya ketegangan geopolitik di Timur Tengah memberikan angin segar bagi pasar. Namun di sisi lain, arah kebijakan suku bunga Amerika Serikat masih menjadi tanda tanya besar yang membuat pelaku pasar memilih bersikap hati-hati.

Tidak hanya itu, perhatian investor juga tertuju pada sejumlah data ekonomi penting dari Negeri Paman Sam yang akan dirilis dalam waktu dekat. Data inflasi hingga pertumbuhan ekonomi Amerika Serikat diperkirakan menjadi faktor penentu arah kebijakan Federal Reserve (The Fed), yang selama ini menjadi salah satu penggerak utama arus modal global.

Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), IHSG pada pembukaan perdagangan Kamis pagi turun 10,81 poin atau 0,18 persen ke level 5.873,07. Pelemahan serupa juga terjadi pada kelompok saham unggulan yang tergabung dalam indeks LQ45. Indeks tersebut turun 1,02 poin atau 0,18 persen ke posisi 577,15.

IHSG Berpotensi Bergerak Volatil, Investor Disarankan Wait and See

Head of Research Kiwoom Sekuritas Indonesia, Liza Camelia Suryanata, menilai pergerakan IHSG sepanjang perdagangan hari ini berpotensi berlangsung volatil. Menurutnya, pasar masih dipengaruhi kombinasi sentimen domestik dan global yang membuat investor cenderung menahan diri sebelum mengambil keputusan investasi besar.

“Secara teknikal, level support IHSG berada di 5.784 atau 5.720 atau 5.677, sedangkan resistance di level 5.993 sampai 6.052 atau 6.171, dengan strategi yang disarankan adalah wait and see atau buy on weakness,” ujar Liza dalam kajiannya di Jakarta, Kamis.

Strategi buy on weakness dinilai relevan karena sebagian investor masih menunggu kepastian arah pasar. Dalam kondisi seperti saat ini, banyak pelaku pasar memilih mengakumulasi saham secara bertahap ketika harga mengalami koreksi.

Selain faktor teknikal, investor juga menyoroti perkembangan sektor teknologi global. Pasar saat ini menantikan laporan keuangan perusahaan semikonduktor asal Amerika Serikat, Micron Technology, yang dianggap sebagai salah satu indikator penting untuk mengukur prospek industri kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI).

“Meskipun saham teknologi masih tertekan akibat aksi ambil untung dan kekhawatiran valuasi yang tinggi, pelaku pasar belum menunjukkan tanda-tanda rotasi besar-besaran keluar dari saham growth,” ujar Liza.

Sentimen Global Mulai Membaik, Harga Minyak Jadi Sorotan

Di tengah tekanan pasar, terdapat sejumlah sentimen positif yang berpotensi membantu menjaga stabilitas pasar saham global. Salah satunya adalah penurunan harga minyak dunia yang terjadi dalam beberapa pekan terakhir.

Menurut Liza, pelemahan harga energi membantu meredakan kekhawatiran terhadap inflasi global. Kondisi ini membuat ekspektasi pasar terhadap kenaikan suku bunga lanjutan oleh The Fed mulai berkurang.

“Penurunan harga energi mendorong investor memangkas proyeksi kenaikan suku bunga lanjutan oleh The Fed, yang tercermin dari turunnya imbal hasil obligasi pemerintah AS,” jelasnya.

Selain itu, perkembangan diplomasi antara Amerika Serikat dan Iran juga memberikan sentimen positif. Kedua negara dikabarkan melanjutkan implementasi kesepakatan damai sementara yang telah dicapai sebelumnya.

Negosiasi lanjutan bahkan dijadwalkan berlangsung di Swiss pada pekan depan dengan dukungan Pakistan dan Oman sebagai mediator. Meredanya ketegangan tersebut ikut berdampak pada aktivitas pelayaran internasional, terutama di Selat Hormuz yang merupakan salah satu jalur perdagangan energi terpenting di dunia.

“Aktivitas pelayaran di Selat Hormuz kembali meningkat seiring dibukanya jalur strategis tersebut, sehingga membantu menurunkan premi risiko geopolitik di pasar energi,” kata Liza.

Fokus Investor Beralih ke Data Inflasi AS dan Transformasi BEI

Dalam jangka pendek, perhatian pasar akan tertuju pada rilis data inflasi inti Personal Consumption Expenditures (PCE) Amerika Serikat periode Mei 2026. Data ini merupakan indikator inflasi favorit Federal Reserve dalam menentukan arah suku bunga.

Selain itu, investor juga menunggu revisi pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) Amerika Serikat kuartal pertama 2026. Hasil kedua data tersebut diyakini akan memberikan petunjuk lebih jelas mengenai langkah kebijakan moneter AS pada semester kedua tahun ini.

Dari dalam negeri, Bursa Efek Indonesia tengah mempersiapkan transformasi besar melalui proses demutualisasi sesuai Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2026. Langkah tersebut akan membuka peluang BEI menjadi perusahaan terbuka melalui skema private placement hingga penawaran saham perdana (IPO).

Transformasi ini menjadi bagian dari target jangka panjang untuk membawa BEI masuk dalam jajaran 10 bursa terbesar dunia dalam empat hingga lima tahun mendatang.

Sementara itu, pemerintah melalui Kementerian Keuangan juga mulai menarik secara bertahap saldo anggaran lebih (SAL) yang sebelumnya ditempatkan di perbankan Himbara. Kebijakan tersebut dilakukan sebagai bagian dari strategi pengelolaan kas negara dan pembiayaan APBN sekaligus menjaga stabilitas sistem keuangan nasional.

Pada perdagangan sebelumnya, bursa global menunjukkan pergerakan yang beragam. Di Eropa, indeks FTSE 100 Inggris menguat 0,31 persen dan CAC 40 Prancis naik 0,54 persen. Sebaliknya, indeks DAX Jerman terkoreksi 0,62 persen dan Euro Stoxx 50 melemah 0,18 persen.

Di Amerika Serikat, indeks Dow Jones Industrial Average berhasil naik 0,35 persen. Namun, indeks S&P 500 turun 0,10 persen dan Nasdaq Composite melemah 0,43 persen, mencerminkan masih tingginya kehati-hatian investor terhadap sektor teknologi dan prospek suku bunga global.

Dengan berbagai sentimen yang berkembang, pelaku pasar diperkirakan akan terus mencermati perkembangan ekonomi global dan domestik sebelum menentukan arah investasi berikutnya. Volatilitas masih menjadi tema utama perdagangan dalam beberapa hari ke depan.