Nilai Tukar Rupiah Kian Tertekan Dekati Rp18.000 per Dolar AS, Ini Daftar Kurs Terbaru BCA, Mandiri, BRI, dan BNI Hari Ini

KurasiNews.com – Nilai tukar rupiah kembali menghadapi tekanan pada perdagangan Kamis (25/6/2026). Mata uang Garuda bergerak melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS), memperpanjang tren pelemahan yang telah berlangsung dalam beberapa pekan terakhir. Kondisi ini membuat perhatian pelaku pasar kembali tertuju pada level psikologis Rp18.000 per dolar AS yang semakin dekat.

Pergerakan rupiah saat ini tidak hanya dipengaruhi faktor domestik, tetapi juga berbagai sentimen global. Ekspektasi pasar terhadap kebijakan suku bunga bank sentral AS atau Federal Reserve (The Fed), ketidakpastian ekonomi dunia, hingga dinamika geopolitik internasional menjadi faktor yang mendorong penguatan dolar AS terhadap mayoritas mata uang negara berkembang.

Di tengah kondisi tersebut, masyarakat dan pelaku usaha yang memiliki kebutuhan transaksi valuta asing mulai mencermati perkembangan kurs harian yang ditawarkan perbankan nasional. Perbedaan kurs antarbank menjadi salah satu pertimbangan penting, terutama bagi nasabah yang melakukan transaksi ekspor-impor, perjalanan internasional, investasi, maupun pembayaran pendidikan di luar negeri.

Berdasarkan data Bloomberg pada pukul 09.05 WIB, nilai tukar rupiah di pasar spot dibuka melemah 11 poin atau sekitar 0,06 persen ke level Rp17.963 per dolar AS. Pada saat yang sama, indeks dolar AS tercatat berada di level 101,561.

Pelemahan ini terjadi setelah sehari sebelumnya rupiah juga ditutup di zona merah. Sejumlah analis menilai pasar masih berhati-hati menyikapi arah kebijakan moneter Amerika Serikat yang berpotensi tetap ketat hingga akhir tahun. Tingginya suku bunga AS membuat aset berbasis dolar menjadi lebih menarik sehingga memicu arus modal keluar dari sejumlah negara berkembang.

Kurs Dolar AS di BCA Hari Ini

PT Bank Central Asia Tbk (BCA) memperbarui kurs dolar AS pada Kamis pagi. Berdasarkan layanan e-rate pukul 09.16 WIB, BCA menetapkan harga beli dolar AS sebesar Rp17.945 dan harga jual Rp17.965 per dolar AS.

Sementara itu, untuk transaksi melalui TT Counter, kurs beli dipatok Rp17.805 dan kurs jual Rp18.080 per dolar AS. Nilai yang sama juga berlaku untuk transaksi bank notes atau uang tunai valuta asing.

BCA menjelaskan bahwa e-rate biasanya digunakan untuk transaksi digital melalui layanan e-banking. Kurs ini dapat berubah sewaktu-waktu mengikuti kondisi pasar dan volume transaksi yang dilakukan nasabah.

Perbandingan Kurs Dolar di Mandiri, BRI, dan BNI

PT Bank Mandiri (Persero) Tbk mencatatkan kurs special rate dengan harga beli Rp17.960 dan harga jual Rp17.990 per dolar AS. Untuk layanan TT Counter, kurs beli berada di level Rp17.695 dan kurs jual Rp17.995.

Adapun pada layanan bank notes, Mandiri menetapkan harga beli Rp17.770 dan harga jual Rp18.070 per dolar AS. Kurs khusus ini umumnya berlaku untuk transaksi dengan nominal besar dan dapat berbeda sesuai ketentuan masing-masing cabang.

Sementara itu, PT Bank Rakyat Indonesia (BRI) menetapkan kurs beli dolar AS sebesar Rp17.798 dan kurs jual Rp18.000 per dolar AS. Level tersebut menunjukkan bahwa harga jual dolar di BRI sudah menyentuh batas psikologis Rp18.000.

Di sisi lain, PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk atau BNI menawarkan special rates dengan harga beli Rp17.947 dan harga jual Rp17.972 per dolar AS. Untuk TT Counter dan bank notes, kurs beli berada di level Rp17.895 dan kurs jual Rp17.995 per dolar AS.

Mengapa Rupiah Terus Melemah?

Sejumlah ekonom menilai tekanan terhadap rupiah saat ini berasal dari kombinasi faktor eksternal dan domestik. Dari luar negeri, pasar masih menunggu data inflasi Amerika Serikat yang menjadi salah satu indikator utama bagi The Fed dalam menentukan arah suku bunga.

Apabila inflasi AS tetap tinggi, peluang kenaikan atau penundaan penurunan suku bunga akan semakin besar. Situasi tersebut berpotensi memperkuat dolar AS dan memberikan tekanan tambahan terhadap mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.

Meski demikian, terdapat sejumlah faktor yang berpotensi menopang stabilitas rupiah. Pemerintah Indonesia masih menjalankan berbagai program stimulus ekonomi untuk menjaga pertumbuhan domestik. Selain itu, Bank Indonesia juga terus melakukan intervensi di pasar valas dan pasar obligasi guna meredam volatilitas nilai tukar.

Bagi masyarakat, pelemahan rupiah biasanya berdampak pada kenaikan biaya impor, perjalanan luar negeri, hingga harga sejumlah barang yang menggunakan bahan baku impor. Sebaliknya, kondisi ini dapat memberikan keuntungan bagi sektor ekspor karena produk Indonesia menjadi lebih kompetitif di pasar global.

Dengan berbagai sentimen yang masih berkembang, pergerakan rupiah diperkirakan tetap fluktuatif dalam beberapa waktu ke depan. Pelaku pasar kini menunggu data ekonomi global berikutnya sebagai petunjuk arah pergerakan mata uang Garuda menuju akhir Juni 2026.