Ilustrasi - Petugas Bank Negara Indonesia (BNI) memberi layanan perbankan kepada nasabah. Foto: Dok BNI

Jakarta, KurasiNews.com PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk atau BNI mencatatkan kinerja baik hingga semester I 2026, di tengah tantangan likuiditas industri perbankan dan geopolitik serta ekonomi global.

Direktur Utama BNI Putrama Wahju Setyawan mengatakan, perseroan terus memperkuat bisnis melalui strategi pertumbuhan yang berorientasi pada kualitas, penguatan bisnis inti, serta transformasi organisasi dan digital secara berkelanjutan.

“Di tengah perubahan lingkungan bisnis yang semakin dinamis, BNI mengarahkan sumber daya pada sektor dan ekosistem yang memiliki prospek pertumbuhan sehat. Pendekatan ini memungkinkan perseroan menjaga produktivitas aset sekaligus meningkatkan relevansi layanan bagi nasabah di setiap segmen,” ujar Putrama dalam keterangannya, Rabu (12/8/2026).

Menurutnya, arah pengembangan bisnis tersebut sejalan dengan agenda transformasi BUMN di bawah koordinasi Danantara Indonesia yang menitikberatkan pada penguatan tata kelola yang profesional, serta penciptaan nilai secara berkelanjutan.

Transformasi Digital dan Implementasi BRAVE Perkuat Produktivitas Bisnis

Transformasi digital dan penguatan jaringan menjadi salah satu penggerak utama peningkatan produktivitas dan pertumbuhan bisnis BNI.

Tercatat hingga akhir Juni 2026, jumlah pengguna wondr by BNI mencapai 15,1 juta, dengan volume transaksi tumbuh 110% secara tahunan.

Sementara pada segmen wholesale, jumlah pengguna BNIdirect mencapai 280 ribu,
dengan volume transaksi tumbuh 17% secara tahunan menjadi Rp6.039 triliun.

“Pertumbuhan tersebut mencerminkan semakin luasnya pemanfaatan kanal digital BNI oleh nasabah ritel maupun korporasi,” jelasnya.

Dari sisi jaringan, implementasi BRAVE atau Branch, Region & Area Value Empowerment kini telah diterapkan di seluruh wilayah operasional BNI.

Program tersebut memperkuat fungsi kantor cabang sebagai pusat penjualan, meningkatkan produktivitas jaringan, serta mengoptimalkan potensi bisnis di setiap daerah.

Putrama menuturkan, transformasi digital dan implementasi BRAVE merupakan bagian dari strategi jangka panjang BNI untuk membangun organisasi yang semakin lincah, memperkuat kapabilitas bisnis, serta menghadirkan layanan yang relevan dengan kebutuhan nasabah.

“Melalui BRAVE, setiap wilayah dan kantor cabang memiliki peran yang semakin kuat dalam menggali potensi ekonomi lokal serta membangun ekosistem bisnis. Integrasi antara kapabilitas jaringan dan solusi digital diharapkan dapat mempercepat akuisisi, memperluas transaksi, dan meningkatkan kualitas hubungan dengan nasabah,” terang dia.

Sementara, Direktur Finance & Strategy BNI Hussein Paolo Kartadjoemena menambahkan, hingga akhir Juni 2026, kredit BNI tumbuh 24,4% secara tahunan menjadi Rp968,5 triliun.

Pertumbuhan tersebut ditopang oleh portofolio kredit yang semakin terdiversifikasi pada berbagai sektor ekonomi dan segmen bisnis utama, mulai dari korporasi, menengah, UMKM hingga konsumer.

Ekspansi kredit dilakukan secara selektif dengan mempertimbangkan prospek industri serta profil risiko masing-masing debitur guna menjaga keseimbangan antara pertumbuhan bisnis dan kualitas portofolio.

Di tengah persaingan likuiditas yang masih ketat, CASA BNI tumbuh 11,2% secara tahunan sehingga mampu mempertahankan rasio CASA pada level 65,4%.

Pencapaian ini mendukung efisiensi biaya dana. Cost of fund dana pihak ketiga membaik menjadi 2,56%, dibandingkan dengan 2,78% pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Struktur pendanaan yang kuat menjadi modal penting bagi BNI untuk menjaga daya saing sekaligus mendukung pertumbuhan kredit secara berkelanjutan.

Penguatan fundamental bisnis BNI juga tercermin pada peningkatan pendapatan inti
Perseroan.

Tercatat hingga semester I 2026, pendapatan bunga bersih atau net interest income (NII) tumbuh 14,2% secara tahunan menjadi Rp22,3 triliun.

Pada periode yang sama, pendapatan berbasis komisi atau fee-based income (FBI) meningkat 14,2% menjadi Rp9 triliun.

Pertumbuhan yang solid dan seimbang dari kedua sumber pendapatan tersebut mendorong laba operasional sebelum pencadangan atau pre-provision operating profit (PPOP) mencapai Rp18,5 triliun, tertinggi sepanjang sejarah BNI untuk periode semester pertama. Untuk laba bersih perseroan tercatat sebesar Rp10,8 triliun.

“Peningkatan pendapatan tidak hanya berasal dari ekspansi kredit, tetapi juga dari pertumbuhan transaksi, solusi cash management, layanan digital, serta aktivitas berbasis komisi lainnya. Diversifikasi sumber pendapatan ini penting untuk menjaga ketahanan profitabilitas BNI dalam berbagai kondisi siklus ekonomi,” pungkasnya.

Selanjutnya memasuki paruh kedua 2026, BNI akan memperkuat struktur pendanaan, menjaga
pertumbuhan kredit yang berkualitas dan terdiversifikasi, serta mempertahankan kualitas aset melalui pengelolaan risiko dan pencadangan yang disiplin.

BNI juga akan melanjutkan transformasi BRAVE dan digital guna meningkatkan produktivitas, memperkuat fundamental bisnis, serta menciptakan pertumbuhan yang sehat dan berkelanjutan, sejalan dengan agenda transformasi BUMN di bawah koordinasi Danantara Indonesia.(*)