Rupiah Menguat di Tengah Kenaikan Harga Pertamax, Ada Hubungannya Ini Penjelasan Analis

KurasiNews.com – Kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) non subsidi yang mulai berlaku pada 10 Juni 2026 ternyata tidak hanya berdampak pada pengeluaran masyarakat. Kebijakan tersebut juga ikut menjadi perhatian pelaku pasar keuangan dan disebut sebagai salah satu faktor yang mendorong penguatan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS).

Di tengah kekhawatiran publik mengenai lonjakan harga Pertamax dan Pertamax Green, pasar justru membaca kebijakan tersebut dari sudut pandang yang berbeda. Investor menilai penyesuaian harga BBM non subsidi dapat memperkuat posisi fiskal pemerintah karena mengurangi tekanan subsidi energi di tengah tingginya harga minyak dunia. Sentimen inilah yang ikut menopang pergerakan rupiah pada perdagangan Rabu (10/6/2026).

Penguatan mata uang Garuda juga terjadi bersamaan dengan langkah agresif Bank Indonesia (BI) yang kembali menaikkan suku bunga acuan. Kombinasi kedua faktor tersebut membuat rupiah mampu bertahan di tengah tekanan global yang masih tinggi akibat ketidakpastian geopolitik dan menantinya data inflasi Amerika Serikat.

Kenaikan Harga BBM Non Subsidi Jadi Sentimen Positif Rupiah

Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS pada Rabu pagi tercatat bergerak menguat signifikan. Rupiah naik 158 poin atau 0,88 persen menjadi Rp17.900 per dolar AS dibandingkan posisi penutupan sebelumnya di level Rp18.058 per dolar AS.

Sementara itu, berdasarkan data Bloomberg pada pukul 12.00 WIB, rupiah berada di level Rp17.965 per dolar AS atau menguat sekitar 0,52 persen di pasar spot.

Analis Bank Woori Saudara Rully Nova menilai penguatan rupiah kali ini dipengaruhi respons positif pasar terhadap kebijakan penyesuaian harga BBM non subsidi yang diumumkan pemerintah melalui Pertamina Patra Niaga.

“Transmisi kebijakan kenaikan harga BBM non subsidi dinilai baik terhadap fiskal pemerintah dan risiko sosial politik yang masih terkendali,” ujar Rully kepada ANTARA di Jakarta, Rabu.

Mulai 10 Juni 2026, Pertamina resmi menaikkan harga Pertamax (RON 92) dari Rp12.300 menjadi Rp16.250 per liter. Sementara Pertamax Green 95 naik dari Rp12.900 menjadi Rp17.000 per liter.

Menurut Pertamina, penyesuaian harga dilakukan setelah berkoordinasi dengan pemerintah sebagai regulator serta melalui mekanisme evaluasi berkala yang mempertimbangkan perkembangan harga minyak dunia dan harga pasar keekonomian.

Di sisi lain, sejumlah produk BBM lainnya tidak mengalami perubahan harga. Pertamax Turbo tetap dijual Rp20.750 per liter, Dexlite Rp23.000 per liter, dan Pertamina Dex Rp24.800 per liter. Adapun BBM bersubsidi seperti Pertalite masih dipertahankan di level Rp10.000 per liter dan Biosolar Rp6.800 per liter.

BI Rate Naik, Investor Kembali Melirik Aset Rupiah

Selain faktor BBM, sentimen positif juga datang dari keputusan Bank Indonesia yang menaikkan suku bunga acuan atau BI Rate sebesar 25 basis poin menjadi 5,50 persen.

Kebijakan tersebut dinilai berhasil meningkatkan kepercayaan pasar terhadap aset keuangan domestik. Dampaknya terlihat dari menguatnya rupiah, meningkatnya indeks saham, serta tetap tingginya minat investor asing pada lelang surat utang pemerintah.

Analis mata uang Ibrahim Assuaibi sebelumnya juga menilai penguatan rupiah dalam dua hari terakhir lebih banyak dipengaruhi faktor domestik.

“Kemarin, hari ini rupiah begitu kuat benar-benar reaksi dari dalam negeri sendiri,” kata Ibrahim.

Bank Indonesia menjelaskan kenaikan suku bunga dilakukan sebagai langkah lanjutan untuk memperkuat stabilisasi nilai tukar rupiah di tengah tingginya ketidakpastian global. Selain menjaga kurs, kebijakan tersebut juga diarahkan untuk memastikan inflasi tetap berada dalam target pemerintah pada 2026 dan 2027.

BI juga berupaya meningkatkan daya tarik instrumen keuangan domestik melalui berbagai kebijakan yang mendorong masuknya aliran modal asing ke Indonesia.

Ancaman Global Masih Membayangi Rupiah

Meski menunjukkan performa positif, ruang penguatan rupiah masih dibatasi sejumlah faktor eksternal yang belum mereda.

Rully Nova mengingatkan bahwa sentimen global masih menjadi tantangan terbesar bagi mata uang negara berkembang, termasuk Indonesia. Salah satu yang menjadi perhatian adalah meningkatnya risiko geopolitik terkait eskalasi terbaru konflik yang melibatkan Amerika Serikat dan Iran.

“Faktor global akan memperberat langkah rupiah untuk penguatan lebih jauh, di antaranya risiko geopolitik eskalasi konflik AS dan Iran terbaru membuat harga minyak masih di level yang tinggi dan pelaku pasar masih menunggu data inflasi AS nanti malam yang diperkirakan akan berada pada tren peningkatan,” ungkapnya.

Harga minyak yang masih tinggi berpotensi mendorong tekanan inflasi global. Kondisi tersebut dapat memengaruhi arah kebijakan moneter Federal Reserve (The Fed), termasuk kemungkinan mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama dari perkiraan pasar.

Selain itu, investor saat ini juga menunggu data inflasi Amerika Serikat yang akan menjadi petunjuk penting mengenai langkah The Fed pada sisa tahun ini.

Dengan berbagai sentimen yang saling tarik-menarik, Rully memperkirakan pergerakan rupiah pada perdagangan hari ini akan berada di kisaran Rp18.030 hingga Rp18.080 per dolar AS. Artinya, meski sempat menguat cukup tajam, volatilitas masih akan mewarnai perjalanan rupiah selama tekanan global belum sepenuhnya mereda.

Leave a Reply