Harga Emas Antam Anjlok Rp20.000, Investor Mulai Panik Ini Penyebab Emas Dunia Tersungkur ke Titik Terendah 2026

KurasiNews.com – Harga emas kembali menjadi sorotan setelah mengalami koreksi tajam dalam beberapa hari terakhir. Bagi masyarakat yang menjadikan logam mulia sebagai instrumen investasi jangka panjang, penurunan harga ini tentu memunculkan pertanyaan besar: apakah ini saat yang tepat untuk membeli atau justru sinyal bahwa tekanan terhadap emas masih akan berlanjut?

Pergerakan harga emas memang tidak bisa dilepaskan dari dinamika ekonomi global. Ketika ketidakpastian meningkat, emas biasanya menjadi aset pelindung nilai yang diburu investor. Namun kali ini situasinya berbeda. Tekanan dari ekspektasi kenaikan suku bunga Amerika Serikat membuat daya tarik emas melemah, bahkan mendorong harga ke level terendah dalam beberapa bulan terakhir.

Di pasar domestik, dampak pelemahan tersebut langsung terasa. Harga emas Antam yang dipantau melalui laman resmi Logam Mulia pada Rabu (10/6/2026) pukul 09.06 WIB turun Rp20.000 per gram. Harga emas kini berada di level Rp2.713.000 per gram, dari sebelumnya Rp2.733.000 per gram. Sementara itu, harga buyback atau pembelian kembali juga turun Rp20.000 menjadi Rp2.547.000 per gram.

Harga Emas Dunia Terpuruk ke Level Terendah Tahun Ini

Tekanan terbesar datang dari pasar global. Berdasarkan data Refinitiv, harga emas dunia pada perdagangan Selasa (9/6/2026) ditutup di level US$4.262,52 per troy ons. Angka tersebut menunjukkan pelemahan sebesar 1,53% dalam sehari.

Penurunan itu memperpanjang tren negatif emas yang telah berlangsung selama tiga hari berturut-turut. Dalam rentang waktu tersebut, harga emas telah terkoreksi sekitar 4,7 persen. Posisi penutupan tersebut bahkan menjadi yang terendah sejak 12 Desember 2025 sekaligus level terendah sepanjang tahun ini.

Belum ada tanda-tanda pemulihan pada perdagangan berikutnya. Pada Rabu pagi pukul 06.26 WIB, harga emas kembali melemah 0,17 persen ke level US$4.255,28 per troy ons. Bahkan pada awal sesi perdagangan, harga emas spot sempat merosot lebih dari dua persen dan menyentuh level terendah sejak 23 Maret.

Menurut Bob Haberkorn, Senior Market Strategist di RJO Futures, sentimen pasar saat ini masih sangat berhati-hati.

“Trader saat ini sedikit gugup. Hampir semua pasar masuk ke mode risk-off, dan itulah yang menekan harga emas,” ujarnya seperti dikutip dari Refinitiv.

Ia menambahkan bahwa emas dan perak masih berpotensi berada dalam tekanan hingga pasar memperoleh petunjuk yang lebih jelas terkait arah kebijakan moneter bank sentral AS.

Bayang-bayang Kenaikan Suku Bunga The Fed

Perhatian investor saat ini tertuju pada data inflasi Amerika Serikat yang akan menjadi faktor penentu kebijakan suku bunga The Fed. Data Consumer Price Index (CPI) Mei dijadwalkan dirilis pada Rabu, sementara Producer Price Index (PPI) akan menyusul sehari kemudian.

Pelaku pasar menilai data tersebut akan memberikan gambaran apakah tekanan inflasi masih cukup tinggi sehingga memaksa The Fed kembali menaikkan suku bunga pada akhir tahun.

Dalam catatannya, Commerzbank menyebut bahwa apabila inflasi AS kembali melampaui ekspektasi pasar, harga emas berpotensi mengalami tekanan lanjutan. Meski demikian, peluang pemulihan masih terbuka apabila The Fed akhirnya memutuskan untuk menahan kenaikan suku bunga.

Berdasarkan CME FedWatch Tool, pasar saat ini memperkirakan peluang sekitar 68 persen bahwa The Fed akan menaikkan suku bunga pada Desember mendatang.

Kondisi tersebut menjadi sentimen negatif bagi emas. Pasalnya, logam mulia tidak memberikan imbal hasil seperti instrumen keuangan lainnya. Ketika suku bunga meningkat, investor cenderung mengalihkan dana ke aset yang menawarkan keuntungan lebih tinggi.

Harga Emas Antam Turun, Ini Daftar Terbarunya

Di tengah tekanan global tersebut, harga emas Antam ikut mengalami koreksi. Berikut daftar harga emas batangan Antam terbaru yang tercatat di laman Logam Mulia:

  • 0,5 gram: Rp1.406.500
  • 1 gram: Rp2.713.000
  • 2 gram: Rp5.366.000
  • 3 gram: Rp8.024.000
  • 5 gram: Rp13.340.000
  • 10 gram: Rp26.625.000
  • 25 gram: Rp66.437.000
  • 50 gram: Rp132.795.000
  • 100 gram: Rp265.512.000
  • 250 gram: Rp663.515.000
  • 500 gram: Rp1.326.820.000
  • 1.000 gram: Rp2.653.600.000

Selain dipengaruhi ekspektasi suku bunga AS, pasar juga mencermati perkembangan geopolitik global. Harga minyak dunia sempat turun setelah Iran dan Israel menyatakan menghentikan serangan satu sama lain menyusul seruan Presiden AS Donald Trump.

Penurunan harga minyak dinilai dapat mengurangi tekanan inflasi global. Hal ini secara tidak langsung memengaruhi ekspektasi kebijakan moneter dan pergerakan harga emas.

Di sisi lain, pasar emas global juga menghadapi persoalan lain. Kenaikan tajam tarif impor emas di India dilaporkan memicu kembali maraknya penyelundupan logam mulia. Volume penyelundupan bahkan diperkirakan dapat melampaui 100 ton sepanjang tahun ini karena keuntungan yang diperoleh di pasar gelap semakin besar.

Dengan sejumlah sentimen negatif yang masih membayangi, pergerakan harga emas dalam jangka pendek diperkirakan tetap volatil. Investor kini menunggu data inflasi AS sebagai petunjuk utama arah kebijakan The Fed sekaligus penentu nasib harga emas pada paruh kedua 2026.

Leave a Reply