KurasiNews.com – Pasar saham Indonesia menunjukkan performa impresif pada perdagangan Kamis (25/6/2026). Setelah sempat dibuka fluktuatif pada awal sesi, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berbalik melesat dan berhasil menembus kembali level psikologis 6.000. Lonjakan ini menjadi sinyal positif di tengah berbagai ketidakpastian ekonomi global yang masih membayangi pasar keuangan dunia.
Penguatan tajam IHSG tidak terjadi tanpa alasan. Kombinasi sentimen positif dari luar negeri dan kebijakan ekonomi domestik menjadi bahan bakar utama reli pasar. Harapan tercapainya stabilitas geopolitik di Timur Tengah serta langkah pemerintah Indonesia yang menggulirkan stimulus ekonomi baru berhasil meningkatkan kepercayaan investor terhadap aset berisiko, termasuk saham.
Di sisi lain, pelaku pasar juga mulai melihat peluang membaiknya kondisi ekonomi pada semester kedua 2026. Dukungan likuiditas, insentif fiskal, serta prospek suku bunga global yang lebih terkendali membuat investor kembali memburu saham-saham unggulan, khususnya sektor perbankan dan infrastruktur yang menjadi motor penggerak indeks.
Berdasarkan data perdagangan Bursa Efek Indonesia (BEI), IHSG pada sesi I Kamis melonjak 158 poin atau 2,69 persen ke posisi 6.041. Bahkan sepanjang perdagangan, indeks sempat menyentuh level tertinggi di 6.056 setelah sebelumnya bergerak di titik terendah 5.864 saat pembukaan pasar.
Volume transaksi tercatat mencapai 13,71 miliar saham dengan nilai perdagangan sebesar Rp7,96 triliun. Aktivitas pasar juga tergolong tinggi dengan frekuensi transaksi menembus 1,03 juta kali. Dari seluruh saham yang diperdagangkan, sebanyak 535 saham menguat, 139 saham melemah, dan 134 saham bergerak stagnan.
Optimisme Perdamaian AS-Iran Dorong Selera Risiko Investor
Salah satu sentimen utama yang mendorong penguatan IHSG berasal dari perkembangan positif hubungan Amerika Serikat dan Iran. Pelaku pasar menyambut baik berlanjutnya proses negosiasi damai antara kedua negara yang selama ini menjadi sumber ketidakpastian di kawasan Timur Tengah.
Pilarmas Investindo Sekuritas menilai optimisme tersebut berdampak langsung pada persepsi risiko global, terutama terkait pasokan energi dunia. Meredanya kekhawatiran konflik membuat aktivitas kapal tanker di Selat Hormuz kembali meningkat.
“Meredanya kekhawatiran gangguan pasokan energi turut meningkatkan selera risiko investor terhadap aset-aset di pasar saham, termasuk di Indonesia,” tulis Pilarmas dalam risetnya, Kamis (25/6/2026).
Selat Hormuz merupakan salah satu jalur pelayaran energi terpenting di dunia. Ketika risiko gangguan distribusi minyak menurun, harga energi menjadi lebih stabil dan tekanan inflasi global ikut mereda. Kondisi ini memberikan ruang lebih besar bagi investor untuk kembali masuk ke pasar saham.
Selain faktor geopolitik, investor juga mendapatkan dorongan dari kebijakan stimulus ekonomi yang mulai digelontorkan pemerintah Indonesia pada semester II-2026. Paket stimulus tersebut diharapkan mampu menjaga daya beli masyarakat, meningkatkan aktivitas ekonomi, serta memperkuat prospek pertumbuhan nasional.
Saham Perbankan dan Infrastruktur Jadi Lokomotif Kenaikan
Reli IHSG kali ini tidak lepas dari kontribusi sejumlah saham berkapitalisasi besar atau big caps. Berdasarkan data Bloomberg, saham-saham sektor perbankan menjadi penopang utama penguatan indeks.
PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) menjadi kontributor terbesar dengan sumbangan 18,83 poin terhadap IHSG. Saham BBCA naik 3,37 persen ke level Rp6.125 per saham dengan nilai transaksi mencapai Rp641 miliar dan volume perdagangan sekitar 106 juta saham.
Selain BBCA, saham PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) juga memberikan kontribusi signifikan sebesar 14,19 poin. Disusul PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) dengan kontribusi 7,08 poin dan PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) sebesar 2,93 poin.
Sektor infrastruktur, transportasi, dan kesehatan juga menjadi primadona investor. Ketiga sektor tersebut masing-masing mencatatkan kenaikan sebesar 4,15 persen, 3,49 persen, dan 3,41 persen.
Sementara itu, salah satu saham yang paling mencuri perhatian adalah PT Barito Pacific Tbk (BRPT). Saham emiten milik konglomerat Prajogo Pangestu tersebut melonjak 16,93 persen hingga mencapai level Rp1.620 per saham. Nilai transaksi BRPT tercatat sekitar Rp190 miliar dengan volume perdagangan mencapai 119 juta saham.
Tak hanya BRPT, saham PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) juga memberikan kontribusi besar terhadap penguatan IHSG dengan tambahan 5,93 poin.
Investor Pantau Data Inflasi AS dan Kebijakan China
Meski pasar sedang bergairah, investor masih mencermati sejumlah agenda ekonomi global yang berpotensi memengaruhi arah pergerakan pasar selanjutnya. Salah satu perhatian utama tertuju pada rilis data inflasi Personal Consumption Expenditures (PCE) Amerika Serikat.
Data PCE merupakan indikator inflasi favorit Federal Reserve (The Fed) dalam menentukan arah kebijakan suku bunga. Konsensus pasar memperkirakan inflasi PCE Mei 2026 meningkat menjadi 0,5 persen secara bulanan dan 4,1 persen secara tahunan. Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan bulan sebelumnya yang tercatat masing-masing sebesar 0,4 persen dan 3,8 persen.
“Jika realisasi data sesuai atau bahkan melampaui ekspektasi, pasar menilai peluang kenaikan suku bunga The Fed masih terbuka. Kondisi ini menjadi perhatian investor karena berpotensi memengaruhi arus modal global,” tulis Pilarmas.
Selain Amerika Serikat, pasar juga menyoroti langkah Bank Sentral China (PBOC) yang berencana memperkenalkan fasilitas reverse repo overnight. Kebijakan tersebut merupakan bagian dari reformasi moneter yang bertujuan menjaga likuiditas jangka pendek dan mendukung pertumbuhan ekonomi Negeri Tirai Bambu.
Dengan kombinasi sentimen positif dari geopolitik, stimulus pemerintah, dan penguatan saham-saham unggulan, IHSG berhasil menunjukkan performa yang solid pada sesi I perdagangan. Namun demikian, investor tetap diminta mencermati perkembangan data ekonomi global yang dapat memengaruhi arah pasar dalam beberapa hari ke depan.









































































