IHSG Melonjak 2,68% ke Level 6.043, Damai AS-Iran Jadi Sentimen Positif, Tapi Investor Diingatkan Waspada

KurasiNews.com – Pasar saham selalu menjadi cerminan dari berbagai dinamika ekonomi dan geopolitik yang terjadi di dunia. Ketika ketegangan global mereda, optimisme investor biasanya kembali tumbuh dan mendorong aliran dana masuk ke instrumen berisiko seperti saham. Sebaliknya, meningkatnya konflik internasional dapat memicu aksi jual karena pelaku pasar cenderung mencari aset yang lebih aman.

Salah satu faktor yang belakangan menjadi perhatian investor dunia adalah hubungan antara Amerika Serikat dan Iran. Konflik yang melibatkan kedua negara selama ini kerap memengaruhi harga energi global, terutama karena Selat Hormuz merupakan jalur strategis bagi distribusi minyak dunia. Ketika muncul sinyal bahwa kedua pihak semakin dekat menuju kesepakatan damai, pasar keuangan global pun menyambutnya dengan antusias.

Sentimen positif tersebut turut dirasakan pasar modal Indonesia. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Jumat bergerak menguat mengikuti reli bursa global. Optimisme pelaku pasar terhadap potensi perdamaian antara Amerika Serikat (AS) dan Iran menjadi salah satu pendorong utama kenaikan indeks, meski sejumlah risiko domestik dan global masih membayangi pergerakan pasar dalam jangka pendek.

IHSG Menguat Seiring Reli Bursa Global

Pada perdagangan Jumat, IHSG dibuka menguat 74,38 poin atau 1,26 persen ke level 5.960,27. Penguatan berlanjut hingga siang hari dengan indeks tercatat melonjak 157,52 poin atau 2,68 persen ke posisi 6.043,55.

Kinerja positif juga terlihat pada kelompok saham unggulan. Indeks LQ45 naik 9,97 poin atau 1,70 persen ke level 596,81, menunjukkan minat beli yang cukup kuat pada saham-saham berkapitalisasi besar.

Meski demikian, Head of Research Kiwoom Sekuritas Liza Camelia Suryanata mengingatkan investor agar tidak terburu-buru menambah porsi pembelian.

“Kiwoom Research perlu ingatkan para investor/trader untuk belum dulu mengambil posisi beli lebih banyak, untuk antisipasi gejolak social unrest/factor global-domestic lainnya during weekend,” ujar Liza dalam kajiannya di Jakarta, Jumat.

Dari pasar global, sentimen positif datang setelah Presiden AS Donald Trump menyatakan bahwa pembahasan dan poin-poin final kesepakatan damai dengan Iran telah disetujui seluruh pihak terkait. Menurutnya, proses penandatanganan dapat dilakukan dalam waktu dekat.

Trump juga menyebut Selat Hormuz akan kembali dibuka setelah kesepakatan diteken, sementara blokade angkatan laut AS terhadap Iran akan dicabut. Kabar tersebut langsung disambut positif oleh pasar karena berpotensi mengurangi risiko gangguan pasokan energi dunia.

Harga Minyak Turun, Bursa Dunia Kompak Menghijau

Meski harapan perdamaian meningkat, ketegangan antara AS dan Iran belum sepenuhnya berakhir. Kedua negara masih tercatat saling melancarkan serangan hingga Kamis (11/6), sehingga investor tetap mencermati perkembangan terbaru yang dapat memengaruhi pasar energi global.

Harga minyak mentah dunia langsung merespons perkembangan tersebut. Setelah Trump membatalkan rencana serangan terhadap Iran, minyak Brent turun 4,5 persen menjadi 88,91 dolar AS per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) melemah 4,2 persen ke level 86,26 dolar AS per barel.

Di Eropa, bursa saham juga bergerak positif setelah European Central Bank (ECB) menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin menjadi 2,25 persen. ECB sekaligus merevisi proyeksi inflasi menjadi 3,0 persen pada 2026, 2,3 persen pada 2027, dan 2,0 persen pada 2028. Namun, lembaga tersebut memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi kawasan Euro menjadi 0,8 persen.

Pada perdagangan Kamis (11/6), indeks-indeks utama Eropa mencatat kenaikan. Euro Stoxx 50 menguat 0,93 persen, FTSE 100 Inggris naik 0,48 persen, DAX Jerman bertambah 0,06 persen, dan CAC 40 Prancis menguat 0,48 persen.

Wall Street juga ditutup di zona hijau. Indeks Dow Jones Industrial Average naik 1,86 persen, S&P 500 menguat 1,75 persen, sedangkan Nasdaq Composite melonjak 3,29 persen.

Sementara itu, bursa Asia pada Jumat pagi turut mengikuti tren positif. Indeks Nikkei Jepang melesat 3,76 persen ke 66.629,00, Shanghai Composite naik 1,10 persen ke 4.030,98, Hang Seng menguat 1,56 persen ke 24.626,00, dan Strait Times bertambah 0,41 persen ke 5.008,36.

Investor Asing Masih Net Sell, Risiko Domestik Jadi Sorotan

Di tengah penguatan pasar saham, investor asing masih menunjukkan sikap hati-hati terhadap aset Indonesia. Pada perdagangan sebelumnya, investor asing membukukan aksi jual bersih atau net sell sebesar Rp61 miliar.

Dengan demikian, akumulasi net sell sepanjang tahun berjalan mencapai sekitar Rp78,5 triliun.

“Arus keluar dana asing menunjukkan bahwa investor global masih cenderung berhati-hati terhadap aset Indonesia di tengah tingginya ketidakpastian domestik dan global, termasuk pelemahan rupiah, isu persepsi risiko Indonesia, serta berlanjutnya tren ‘Sell Indonesia’ yang telah berlangsung dalam beberapa bulan terakhir,” ujar Liza.

Selain faktor eksternal, pelaku pasar juga mencermati rencana aksi demonstrasi mahasiswa di Jakarta yang dinilai berpotensi menambah kekhawatiran investor asing terhadap stabilitas sosial dan politik nasional.

“Selama faktor-faktor tersebut masih membayangi, arus dana asing diperkirakan akan cenderung selektif dan belum sepenuhnya kembali ke pasar saham Indonesia,” kata Liza.

Ia juga menyoroti sejumlah agenda besar yang menjadi perhatian investor global dalam waktu dekat. Menurut Liza, pasar sedang menunggu rapat pertama Kevin Warsh sebagai Ketua The Fed pada 17 Juni 2026, di tengah ekspektasi adanya setidaknya satu kali kenaikan suku bunga hingga akhir tahun.

“Dalam jangka pendek, perhatian investor global juga tersedot ke sejumlah event besar seperti IPO SpaceX senilai 75 miliar dolar AS yang menjadi IPO terbesar dalam sejarah, serta dimulainya FIFA World Cup di AS yang berpotensi mengalihkan sebagian fokus dan likuiditas pasar global ke aset-aset berprofil tinggi, serta ke meja judi bola,” ujar Liza.

Dengan kombinasi sentimen positif dari potensi perdamaian AS-Iran dan sejumlah risiko yang masih membayangi, penguatan IHSG menjadi sinyal bahwa optimisme pasar mulai pulih. Namun, investor tetap perlu mencermati perkembangan global dan domestik sebelum mengambil keputusan investasi dalam beberapa hari ke depan.

Leave a Reply