KurasiNews.com – Pergerakan nilai tukar rupiah kembali menjadi sorotan pelaku pasar setelah mata uang Garuda menunjukkan tanda-tanda pemulihan yang cukup signifikan dalam beberapa hari terakhir. Setelah sempat berada di bawah tekanan hebat hingga mendekati level psikologis Rp18.200 per dolar Amerika Serikat (AS), rupiah kini perlahan bangkit dan kembali bergerak di bawah level Rp18.000 per dolar AS.
Penguatan rupiah ini membawa dampak langsung terhadap harga beli dan jual dolar AS di berbagai perbankan nasional. Ketika nilai tukar rupiah menguat, kurs jual dolar yang ditawarkan bank umumnya ikut menurun. Kondisi tersebut menjadi kabar baik bagi masyarakat maupun pelaku usaha yang memiliki kebutuhan transaksi menggunakan mata uang Negeri Paman Sam.
Momentum penguatan rupiah terjadi setelah Bank Indonesia (BI) mengambil langkah yang cukup mengejutkan dengan menaikkan suku bunga acuan atau BI Rate sebesar 25 basis poin. Kebijakan tersebut langsung direspons positif oleh pasar keuangan dan berhasil mendorong aliran sentimen yang lebih kondusif terhadap mata uang domestik.
Rupiah Bangkit Setelah BI Naikkan Suku Bunga
Penguatan nilai tukar rupiah hingga kembali meninggalkan level Rp18.000 per dolar AS tidak terjadi secara kebetulan. Terdapat kombinasi sejumlah faktor yang mendorong mata uang domestik bergerak lebih stabil dalam beberapa hari terakhir.
Sebelumnya, rupiah sempat mengalami tekanan cukup berat. Pada perdagangan Senin (8/6), berdasarkan data Bloomberg, nilai tukar rupiah berada di posisi Rp18.196 per dolar AS atau melemah 0,89 persen dibandingkan penutupan sebelumnya. Posisi tersebut menjadi salah satu titik terlemah rupiah dalam beberapa waktu terakhir.
Namun situasi berubah setelah Bank Indonesia mengumumkan kenaikan BI Rate sebesar 25 basis poin pada Selasa (9/6). Kebijakan tersebut meningkatkan daya tarik aset keuangan domestik dan memperkuat kepercayaan pasar terhadap stabilitas rupiah.
Hasilnya mulai terlihat pada perdagangan Rabu (10/6), ketika rupiah ditutup menguat 114 poin atau 0,63 persen ke level Rp17.944 per dolar AS. Meski sempat kembali tertekan pada Kamis (11/6) ke posisi Rp17.988 per dolar AS, tren penguatan berlanjut pada Jumat (12/6).
Pada awal perdagangan Jumat, rupiah berhasil menguat tajam 0,42 persen dan terapresiasi ke level Rp17.900 per dolar AS. Penguatan tersebut terjadi setelah sehari sebelumnya rupiah ditutup melemah 0,14 persen di level Rp17.975 per dolar AS.
Kenaikan Harga Pertamax dan Intervensi Otoritas Jadi Sentimen Positif
Selain kebijakan suku bunga, terdapat faktor lain yang turut menopang penguatan rupiah. Salah satunya adalah kebijakan pemerintah menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi jenis Pertamax.
Mulai 10 Juni 2026, harga Pertamax (RON 92) naik dari Rp12.300 menjadi Rp16.250 per liter atau meningkat Rp3.950 per liter. Kebijakan tersebut dipandang pasar sebagai langkah yang dapat membantu mengurangi tekanan terhadap anggaran negara dan memperkuat persepsi fiskal Indonesia.
Di sisi lain, pelaku pasar juga melihat adanya peran aktif otoritas dalam menjaga stabilitas pasar keuangan domestik. Penguatan rupiah tidak hanya berasal dari kebijakan moneter Bank Indonesia, tetapi juga didukung berbagai langkah intervensi yang dilakukan untuk menjaga keseimbangan pasar valas.
Kombinasi kebijakan suku bunga, penguatan kepercayaan investor, serta stabilitas pasar keuangan menjadi faktor utama yang membantu rupiah keluar dari tekanan yang sempat membawa mata uang domestik mendekati level Rp18.200 per dolar AS.
Daftar Kurs Dolar AS di Bank-Bank Indonesia Hari Ini
Seiring menguatnya rupiah, sejumlah bank nasional mulai menyesuaikan kurs beli dan kurs jual dolar AS.
Di PT Bank Central Asia Tbk (BCA), kurs e-rate pada pukul 09.42 WIB tercatat di level Rp17.950 untuk kurs beli dan Rp17.970 untuk kurs jual. Sementara melalui TT Counter dan Bank Notes, kurs beli berada di Rp17.775 dan kurs jual Rp18.050.
PT Bank Mandiri (Persero) Tbk menetapkan special rate sebesar Rp17.920 untuk kurs beli dan Rp17.950 untuk kurs jual. Adapun TT Counter dan Bank Notes dipatok pada kisaran Rp17.730 untuk kurs beli dan Rp18.030 untuk kurs jual.
Di PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk atau BNI, special rates berada di level Rp17.953 untuk kurs beli dan Rp17.973 untuk kurs jual. Sedangkan TT Counter dan Bank Notes menawarkan kurs jual sebesar Rp18.035.
PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk atau BRI menetapkan e-rate pada Rp17.966 untuk kurs beli dan Rp17.998 untuk kurs jual. Sementara TT Counter menawarkan kurs jual Rp18.060.
Bank CIMB Niaga menjadi salah satu bank dengan spread yang relatif tipis. Kurs beli dan jual valas tercatat masing-masing Rp17.954 dan Rp17.969.
Sementara itu, HSBC Indonesia menetapkan transfer rates sebesar Rp17.965 untuk kurs beli dan Rp18.265 untuk kurs jual. Untuk banknote rates, kurs jual bahkan mencapai Rp18.415 per dolar AS.
MUFG Bank Jakarta Branch menetapkan nilai tukar TTB di Rp17.625 dan TTS di Rp18.225. Adapun UOB Indonesia menawarkan kurs beli Rp17.579 dan kurs jual Rp18.179.
Perbedaan kurs beli dan kurs jual di setiap bank menjadi faktor penting yang perlu diperhatikan masyarakat sebelum melakukan transaksi valuta asing. Dengan rupiah yang kembali menguat ke level Rp17.900 per dolar AS, pelaku pasar kini menanti apakah tren penguatan tersebut dapat berlanjut dalam beberapa pekan ke depan atau justru kembali menghadapi tekanan dari sentimen global.























































