KurasiNews.com – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali menjadi sorotan pelaku pasar setelah mengalami tekanan dan menyentuh level 5.692,16. Pelemahan ini menambah kekhawatiran investor yang dalam beberapa pekan terakhir terus mencermati berbagai sentimen ekonomi baik dari dalam maupun luar negeri.
Pergerakan IHSG yang cenderung fluktuatif menunjukkan bahwa pasar masih berada dalam fase konsolidasi. Meski sempat menunjukkan tanda-tanda pemulihan, tekanan jual yang muncul akibat ketidakpastian global membuat indeks acuan Bursa Efek Indonesia (BEI) belum mampu bergerak stabil di zona hijau.
Di tengah dinamika tersebut, investor kini menaruh perhatian pada sejumlah faktor penting, mulai dari perkembangan ekonomi Amerika Serikat, pergerakan harga minyak dunia, hingga berbagai kebijakan strategis pemerintah Indonesia yang dinilai akan memengaruhi iklim investasi nasional dalam jangka panjang.
IHSG Bergerak Volatil, Level 5.600 Jadi Area Krusial
Pada perdagangan Jumat, IHSG sebenarnya dibuka menguat 6,71 poin atau 0,11 persen ke posisi 5.846,49. Namun, volatilitas pasar masih cukup tinggi seiring investor terus mengevaluasi berbagai perkembangan ekonomi yang berpotensi memengaruhi arah pergerakan pasar.
Sementara itu, kelompok saham unggulan yang tergabung dalam Indeks LQ45 justru terkoreksi 1,38 poin atau 0,24 persen ke level 579,54. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa pelaku pasar masih cenderung berhati-hati dalam mengambil posisi investasi.
Head of Research Kiwoom Sekuritas, Liza Camelia Suryanata, menilai area 5.644 hingga 5.600 menjadi zona penting yang perlu dipertahankan oleh IHSG.
“Selama IHSG mampu bertahan di atas area 5.644-5.600, peluang penguatan menuju 6.000-6.050 hingga 6.181-6.230 masih terbuka. Sebaliknya, jika area 5.644 kembali ditembus, risiko pelemahan lanjutan menuju 5.500 perlu diwaspadai,” ujar Liza.
Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa arah pergerakan indeks dalam waktu dekat masih sangat bergantung pada kemampuan pasar menjaga level support utama di tengah berbagai sentimen yang berkembang.
Sentimen Global Beri Harapan, Namun Risiko Masih Mengintai
Dari pasar internasional, sentimen investor sempat membaik setelah harga minyak dunia mengalami koreksi cukup tajam. Penurunan harga energi dianggap mampu meredakan kekhawatiran terhadap lonjakan inflasi global yang selama ini menjadi salah satu faktor utama tekanan pasar keuangan.
Tercatat, harga minyak mentah Brent berada di kisaran 95,62 dolar AS per barel, sedangkan minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) diperdagangkan pada level 93,30 dolar AS per barel. Kondisi tersebut mendorong terjadinya rotasi dana ke sektor-sektor defensif dan keuangan yang dianggap lebih aman.
Selain itu, pasar juga merespons positif sikap pemerintah Amerika Serikat di bawah kepemimpinan Presiden Donald Trump yang menegaskan tetap menghormati batas tarif dalam perjanjian perdagangan dengan Uni Eropa dan Jepang. Kepastian tersebut memberikan ruang optimisme bagi investor global.
Meski demikian, ancaman baru masih membayangi. Pemerintah AS tetap membuka peluang penerapan tarif tambahan melalui investigasi Section 301 yang berkaitan dengan dugaan praktik kerja paksa dan kelebihan kapasitas manufaktur di sejumlah negara mitra dagang.
“Hasil investigasi tersebut diperkirakan diumumkan dalam beberapa minggu ke depan dan berpotensi menjadi sumber ketidakpastian baru bagi perdagangan global,” kata Liza.
Faktor ini menjadi salah satu alasan mengapa investor masih memilih bersikap selektif meski sentimen inflasi mulai menunjukkan perbaikan.
IIFC dan Program MBG Jadi Perhatian Investor
Dari dalam negeri, pasar turut mencermati rencana pemerintah bersama DPR yang tengah mempersiapkan pembentukan Indonesia International Financial Center (IIFC) melalui revisi Undang-Undang Pengembangan dan Penguatan Sektor Keuangan (UU P2SK).
IIFC dirancang sebagai kawasan keuangan internasional yang menawarkan berbagai kemudahan regulasi, insentif perpajakan, pengawasan khusus, serta mekanisme penyelesaian sengketa yang lebih cepat untuk meningkatkan kepastian hukum bagi investor.
Kawasan tersebut nantinya diharapkan menjadi pusat aktivitas jasa keuangan yang mencakup sektor perbankan, asuransi, dana pensiun, modal ventura hingga family office. Kehadiran IIFC diyakini dapat memperdalam pasar keuangan nasional sekaligus menarik lebih banyak investasi asing ke Indonesia.
Namun, Liza mengingatkan bahwa keberhasilan proyek tersebut sangat ditentukan oleh kualitas regulasi yang diterapkan.
“Namun, efektivitas implementasinya akan sangat bergantung pada desain regulasi, lokasi kawasan, dan kemampuan Indonesia bersaing dengan pusat keuangan regional yang telah mapan,” ujarnya.
Selain itu, investor juga memperhatikan perubahan strategi Program Makan Bergizi Gratis (MBG) setelah anggaran tahun 2026 dipangkas menjadi Rp268 triliun dari rencana awal Rp335 triliun. Pemerintah kini lebih fokus meningkatkan kualitas operasional dan standar keamanan pangan dibanding melakukan ekspansi besar-besaran.
Langkah tersebut diambil setelah muncul berbagai sorotan terkait tata kelola program, termasuk kasus dugaan korupsi dan sejumlah insiden keracunan makanan. Pemerintah juga membuka peluang pendanaan alternatif melalui hibah dan program tanggung jawab sosial perusahaan (CSR).
“Kebijakan ini diharapkan dapat meningkatkan efektivitas dan kualitas layanan MBG, meskipun target perluasan jumlah penerima manfaat berpotensi lebih moderat dibanding rencana awal,” tutur Liza.
Sementara itu, bursa saham Eropa pada perdagangan sebelumnya ditutup menguat. Indeks Euro Stoxx 50 naik 0,81 persen, FTSE 100 Inggris menguat 0,50 persen, DAX Jerman naik 0,60 persen, dan CAC 40 Prancis melonjak 1,15 persen.
Di Wall Street, indeks Dow Jones menguat 1,73 persen, S&P 500 naik 0,41 persen, sementara Nasdaq Composite terkoreksi 0,53 persen. Adapun bursa Asia bergerak beragam dengan Nikkei dan Hang Seng melemah, sedangkan Shanghai Composite mencatat penguatan tipis.
Perkembangan tersebut menunjukkan bahwa arah pergerakan IHSG ke depan masih akan sangat dipengaruhi kombinasi sentimen global dan domestik yang terus berkembang.










































