Kemenpar Cetak Fasilitator Pariwisata Hijau, UMKM Wisata Lokal Siap Naik Kelas dan Lebih Berkelanjutan

KurasiNews.com – Isu keberlanjutan kini menjadi salah satu faktor penting dalam pengembangan sektor pariwisata global. Wisatawan tidak lagi hanya mencari destinasi yang indah, tetapi juga memperhatikan bagaimana sebuah kawasan wisata menjaga lingkungan, memberdayakan masyarakat lokal, dan menciptakan dampak ekonomi yang berkelanjutan.

Indonesia sebagai salah satu negara dengan kekayaan alam dan budaya terbesar di dunia turut berupaya mengadopsi prinsip tersebut dalam pengembangan pariwisatanya. Berbagai program terus didorong agar pertumbuhan sektor wisata tidak hanya menghasilkan keuntungan ekonomi, tetapi juga mampu menjaga kelestarian lingkungan dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat setempat.

Salah satu langkah konkret yang dilakukan pemerintah adalah memperkuat kapasitas sumber daya manusia di tingkat lokal. Melalui pelatihan dan pendampingan yang terstruktur, masyarakat di destinasi wisata didorong menjadi pelaku utama dalam menciptakan ekosistem pariwisata yang lebih hijau, inklusif, dan berkelanjutan.

Kemenpar Lanjutkan Program Green Tourism MSMEs 2026

Komitmen tersebut kembali diwujudkan melalui penyelenggaraan Training of Trainers (ToT) Green Tourism MSMEs 2026 yang digelar Kementerian Pariwisata di Malang, Jawa Timur, pada 18–24 Mei 2026.

Program yang memasuki tahun kedua pelaksanaannya ini merupakan kelanjutan dari kegiatan serupa yang sukses digelar di Yogyakarta pada 2025. Saat itu, program Green Tourism MSMEs berhasil menjangkau lebih dari 973 pelaku usaha pariwisata berbasis masyarakat.

Berbekal capaian tersebut, Kementerian Pariwisata berupaya memperluas dampak program dengan mencetak lebih banyak fasilitator lokal yang mampu mendampingi pelaku usaha dan komunitas wisata di berbagai daerah.

Deputi Bidang Sumber Daya dan Kelembagaan Kementerian Pariwisata, Martini M. Paham, mengatakan bahwa program ini dirancang untuk memperkuat praktik pariwisata berkelanjutan di tingkat akar rumput.

“Melalui program Green Tourism MSMEs, kami ingin mendorong lahirnya fasilitator lokal yang mampu memperluas praktik pariwisata berkelanjutan sekaligus memperkuat ekonomi masyarakat di destinasi wisata,” kata Martini dalam keterangannya di Jakarta, Rabu (3/6/2026).

Menurutnya, keberadaan fasilitator lokal menjadi kunci penting dalam memastikan konsep pariwisata hijau dapat diterapkan secara konsisten dan sesuai dengan karakteristik masing-masing daerah.

Peserta Dibekali Keterampilan Praktis Pendampingan Masyarakat

Asisten Deputi Peningkatan Kapasitas Masyarakat Kementerian Pariwisata, Ika Kusuma Permana Sari, menjelaskan bahwa pelatihan ini tidak hanya berfokus pada teori mengenai green tourism.

Peserta juga mendapatkan pembekalan keterampilan yang dapat langsung diterapkan ketika melakukan pendampingan kepada masyarakat maupun pelaku usaha wisata di lapangan.

“Melalui ToT Green Tourism MSMEs, peserta tidak hanya dibekali pemahaman teoritis mengenai pariwisata hijau, tetapi juga keterampilan fasilitasi, komunikasi, dan metode pendampingan masyarakat yang aplikatif. Dengan demikian, ilmu yang diperoleh dapat langsung diterapkan saat melakukan replikasi pelatihan di destinasi masing-masing,” kata Ika.

Selama tujuh hari pelatihan intensif, peserta mempelajari berbagai materi penting, mulai dari konsep green tourism, pengembangan usaha berkelanjutan, literasi keuangan, strategi pemasaran, teknik fasilitasi partisipatif, hingga simulasi pelatihan lapangan melalui sesi microteaching.

Program ini juga menjadi ruang kolaborasi bagi para peserta yang berasal dari berbagai destinasi wisata untuk bertukar pengalaman dan berbagi praktik terbaik dalam mengembangkan pariwisata berbasis masyarakat.

Kementerian Pariwisata melibatkan 15 peserta terpilih yang berasal dari 10 Destinasi Pariwisata Prioritas (DPP) dan tiga Destinasi Pariwisata Regeneratif (DPR). Mereka dipilih melalui proses kurasi yang mempertimbangkan pengalaman pendampingan, rekam jejak fasilitasi, kontribusi terhadap pengembangan pariwisata daerah, serta komitmen untuk menyebarluaskan ilmu yang diperoleh.

Dampak Nyata bagi UMKM dan Destinasi Wisata

Program Green Tourism MSMEs mulai menunjukkan hasil yang nyata di lapangan. Salah satu perubahan yang terlihat adalah meningkatnya kemampuan pelaku usaha dalam mengelola bisnis secara profesional.

Beberapa peserta pendampingan sebelumnya mulai menerapkan pencatatan keuangan yang lebih baik, memisahkan keuangan pribadi dan usaha, serta menjalankan praktik bisnis yang lebih ramah lingkungan.

Manfaat tersebut dirasakan langsung oleh Dwi Kuntari, pemilik usaha Jamu Deka, yang mengikuti program pendampingan pada tahun sebelumnya.

“Keuntungan usaha saya meningkat drastis dari yang awalnya hanya sekitar 1–2 persen menjadi 17 persen setelah memperkuat tata kelola dan sistem pencatatan keuangan usaha,” ujarnya.

Sebagai tindak lanjut, seluruh peserta ToT akan menjalani proses asesmen yang mencakup penilaian kemampuan fasilitasi, penguasaan materi, tingkat partisipasi, serta hasil praktik microteaching selama pelatihan.

Peserta dengan performa terbaik nantinya berpeluang terlibat dalam pelaksanaan Training of Beneficiaries (ToB) pada tahap berikutnya sehingga dampak program dapat menjangkau lebih banyak masyarakat dan pelaku usaha wisata.

Melalui Green Tourism MSMEs 2026, Kementerian Pariwisata menegaskan komitmennya untuk membangun sektor pariwisata yang tidak hanya mengejar pertumbuhan ekonomi semata, tetapi juga menjaga keberlanjutan lingkungan, memperkuat usaha lokal, dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat di berbagai destinasi wisata Indonesia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *