Kurs Dolar Hari ini Rupiah Kian Dekat Rp18.000 per Dolar AS, Apa Penyebabnya dan Bagaimana Dampaknya

KurasiNews.com – Nilai tukar rupiah kembali menghadapi tekanan pada perdagangan Kamis (25/6/2026). Mata uang Garuda bergerak melemah dan semakin mendekati level psikologis Rp18.000 per dolar Amerika Serikat (AS), sebuah titik yang kerap menjadi perhatian pelaku pasar, investor, maupun dunia usaha.

Di tengah ketidakpastian ekonomi global, pergerakan rupiah masih dibayangi berbagai sentimen eksternal. Mulai dari ekspektasi kenaikan suku bunga bank sentral AS (Federal Reserve), perkembangan konflik geopolitik di Timur Tengah, hingga arus modal asing yang cenderung berhati-hati memasuki pasar negara berkembang.

Meski demikian, sejumlah indikator domestik menunjukkan kondisi ekonomi Indonesia masih relatif terjaga. Pemerintah bahkan telah menyiapkan paket stimulus ekonomi senilai Rp26,34 triliun untuk menjaga daya beli masyarakat dan mendorong pertumbuhan ekonomi pada semester II 2026. Namun untuk sementara waktu, sentimen global tampaknya masih lebih dominan memengaruhi pergerakan rupiah.

Rupiah Melemah ke Rp17.967 per Dolar AS

Berdasarkan data perdagangan pagi hari, nilai tukar rupiah melemah 15 poin atau sekitar 0,08 persen menjadi Rp17.967 per dolar AS dibandingkan posisi penutupan sebelumnya yang berada di level Rp17.952 per dolar AS.

Sehari sebelumnya, rupiah bahkan ditutup melemah lebih dalam di pasar spot. Data Bloomberg menunjukkan mata uang Indonesia berada di level Rp17.952 per dolar AS atau turun sekitar 0,52 persen dibandingkan penutupan sebelumnya di Rp17.859 per dolar AS.

Tekanan serupa juga tercermin pada kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) yang diterbitkan Bank Indonesia. Nilai JISDOR turun dari Rp17.819 menjadi Rp17.868 per dolar AS dalam sehari.

Pelemahan rupiah ini terjadi ketika indeks dolar AS masih bertahan kuat terhadap mayoritas mata uang dunia. Kondisi tersebut membuat banyak mata uang negara berkembang, termasuk rupiah, mengalami tekanan yang hampir serupa.

Sebagai gambaran, ketika dolar AS menguat akibat ekspektasi suku bunga tinggi, investor global cenderung memindahkan dananya ke aset berdenominasi dolar yang dianggap lebih aman dan memberikan imbal hasil lebih menarik.

The Fed dan Geopolitik Jadi Sorotan Pasar

Pengamat mata uang Ibrahim Assuaibi menilai pelemahan rupiah berasal dari kombinasi faktor eksternal dan domestik.

Menurut Ibrahim, perhatian pasar saat ini tertuju pada perkembangan hubungan Amerika Serikat dan Iran. Meski ketegangan mulai mereda setelah adanya pembicaraan damai dan pelonggaran sebagian sanksi terhadap Iran, sejumlah isu penting masih belum menemukan titik terang.

“Pasar masih mencermati berbagai perkembangan terkait Iran, termasuk masalah inspeksi nuklir dan akses terhadap dana yang sebelumnya dibekukan,” ujar Ibrahim.

Selain faktor geopolitik, pelaku pasar juga tengah menunggu arah kebijakan Federal Reserve. Pernyataan sejumlah pejabat The Fed yang bernada hawkish membuat ekspektasi kenaikan suku bunga kembali menguat.

“Saat ini pasar memperkirakan probabilitas kenaikan suku bunga The Fed sekitar 70 persen pada September dan masih membuka peluang kenaikan lanjutan pada Desember,” kata Ibrahim.

Fokus berikutnya adalah data inflasi inti Personal Consumption Expenditures (Core PCE) Amerika Serikat yang akan dirilis dalam waktu dekat. Data tersebut merupakan indikator inflasi favorit Federal Reserve dan sering menjadi dasar dalam menentukan arah kebijakan moneter.

Jika inflasi AS tetap tinggi, peluang kenaikan suku bunga akan semakin besar, yang berpotensi memberikan tekanan tambahan terhadap rupiah.

Kurs Dolar di BCA, Mandiri, dan BNI

Di tengah pelemahan rupiah, masyarakat yang membutuhkan valuta asing juga perlu memperhatikan perbedaan kurs antarbank.

Di Bank BCA, kurs e-Rate tercatat pada level Rp17.920 per dolar AS untuk pembelian dan Rp17.940 per dolar AS untuk penjualan.

Sementara itu, Bank Mandiri menetapkan special rate sebesar Rp17.960 per dolar AS untuk pembelian dan Rp17.990 per dolar AS untuk penjualan.

Adapun Bank BNI mencatat kurs spesial Rp17.922 per dolar AS untuk pembelian dan Rp17.947 per dolar AS untuk penjualan.

Perbedaan kurs tersebut merupakan hal yang wajar karena setiap bank memiliki kebijakan dan biaya transaksi masing-masing.

Selain itu, masyarakat juga perlu memahami perbedaan jenis kurs yang tersedia.

Special Rate atau e-Rate biasanya digunakan untuk transaksi valas bernilai besar dan dilakukan melalui layanan digital atau negosiasi khusus dengan bank.

TT Counter merupakan kurs yang digunakan untuk transaksi transfer, setoran, atau penarikan dana valas melalui teller.

Sedangkan Bank Notes adalah kurs yang berlaku untuk transaksi jual beli mata uang asing dalam bentuk uang tunai.

Di sisi lain, terdapat sentimen positif dari keputusan MSCI yang memperpanjang evaluasi aksesibilitas pasar Indonesia hingga November 2026. Langkah tersebut memberikan waktu tambahan bagi regulator dan pelaku pasar untuk meningkatkan daya saing pasar keuangan domestik.

Pemerintah juga berharap paket stimulus ekonomi Rp26,34 triliun yang akan digelontorkan pada semester II mampu menjaga pertumbuhan ekonomi nasional sekaligus memperkuat daya tahan terhadap gejolak global.

Untuk perdagangan hari ini, Ibrahim memperkirakan rupiah masih bergerak fluktuatif dengan kecenderungan melemah di rentang Rp17.950 hingga Rp18.020 per dolar AS.

Artinya, level Rp18.000 per dolar AS kini menjadi batas psikologis yang terus diawasi pasar. Jika sentimen global belum membaik, bukan tidak mungkin rupiah akan kembali menguji area tersebut dalam waktu dekat.