KurasiNews.com – Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS kembali menunjukkan taringnya di tengah gejolak pasar global. Setelah sempat berada di atas level Rp18.000 per dolar AS, mata uang Garuda berhasil menguat pada perdagangan Rabu (10/6/2026). Penguatan ini menjadi perhatian pelaku pasar karena terjadi saat ketidakpastian ekonomi global masih membayangi, mulai dari tensi geopolitik hingga arah kebijakan suku bunga Amerika Serikat.
Pergerakan rupiah dalam beberapa hari terakhir juga menunjukkan bahwa faktor domestik mulai memainkan peran yang lebih besar. Langkah Bank Indonesia menaikkan suku bunga acuan dinilai berhasil memberikan sinyal kuat kepada investor bahwa otoritas moneter serius menjaga stabilitas nilai tukar di tengah tekanan eksternal yang masih tinggi.
Meski demikian, perjalanan rupiah belum sepenuhnya mulus. Sejumlah data ekonomi penting dari Amerika Serikat masih menjadi perhatian pasar. Investor kini menunggu petunjuk baru terkait inflasi Negeri Paman Sam yang akan menentukan arah kebijakan Federal Reserve atau The Fed dalam beberapa bulan ke depan.
Rupiah Menguat ke Rp17.965 per Dolar AS
Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat menguat pada perdagangan siang hari. Berdasarkan data Bloomberg pada Rabu (10/6/2026) pukul 12.00 WIB, rupiah di pasar spot berada di level Rp17.965 per dolar AS atau menguat 0,52 persen dibandingkan posisi sebelumnya.
Penguatan tersebut melanjutkan tren positif yang sudah terlihat sehari sebelumnya. Pada penutupan perdagangan Selasa (9/6/2026), rupiah ditutup di level Rp18.058 per dolar AS atau menguat 0,72 persen secara harian.
Sebelumnya, berdasarkan data RTI Infokom, rupiah juga berhasil mengakhiri perdagangan Selasa dengan kenaikan 170 poin atau sekitar 0,94 persen ke posisi Rp18.000 per dolar AS.
Kinerja rupiah saat itu sejalan dengan sejumlah mata uang Asia lainnya. Yuan China tercatat menguat 0,19 persen, dolar Hong Kong naik 0,01 persen, won Korea Selatan menguat 0,38 persen, dan dolar Singapura naik 0,16 persen. Sementara yen Jepang turun tipis 0,01 persen, baht Thailand melemah 0,12 persen, dan dolar Taiwan turun 0,03 persen.
Pada perdagangan pagi ini, rupiah bahkan sempat dibuka lebih kuat di level Rp17.894 per dolar AS atau naik 106 poin dibandingkan penutupan sebelumnya.
Kenaikan BI Rate Jadi Sentimen Utama
Analis mata uang Ibrahim Assuaibi menilai penguatan rupiah kali ini lebih banyak ditopang oleh faktor domestik, terutama keputusan Bank Indonesia menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin menjadi 5,50 persen.
“Kemarin, hari ini rupiah begitu kuat benar-benar reaksi dari dalam negeri sendiri,” ujar Ibrahim, Rabu (10/6/2026).
Menurutnya, langkah Bank Indonesia tersebut memberikan kepercayaan tambahan bagi pelaku pasar sekaligus meningkatkan daya tarik aset keuangan domestik di mata investor asing.
Sebelumnya, BI menjelaskan bahwa kenaikan BI Rate dilakukan sebagai langkah lanjutan untuk memperkuat stabilisasi nilai tukar rupiah di tengah tingginya ketidakpastian global, khususnya dampak konflik di Timur Tengah.
Selain itu, kebijakan tersebut juga ditempuh sebagai langkah pre-emptive guna menjaga inflasi tahun 2026 dan 2027 tetap berada dalam sasaran pemerintah, yakni 2,5 persen plus minus 1 persen.
Bank Indonesia juga menegaskan perlunya langkah lanjutan untuk memperkuat stabilitas rupiah melalui peningkatan imbal hasil instrumen keuangan domestik serta berbagai insentif yang dapat mendorong masuknya aliran modal asing ke Indonesia.
Ibrahim bahkan memperkirakan BI masih berpotensi menaikkan suku bunga hingga total 200 basis poin atau sekitar 2 persen sampai akhir tahun apabila tekanan terhadap rupiah masih berlanjut.
Data Inflasi AS dan Konflik Timur Tengah Masih Membayangi
Meski rupiah tengah menguat, pasar masih dibayangi sejumlah sentimen global yang berpotensi memengaruhi pergerakan mata uang emerging market, termasuk Indonesia.
Salah satunya adalah perkembangan geopolitik di Timur Tengah. Sentimen pasar sempat membaik setelah Iran dan Israel menyatakan menghentikan serangan satu sama lain. Sebelumnya, Presiden AS Donald Trump meminta kedua pihak menghentikan aksi militer yang berisiko memperluas konflik kawasan.
Namun demikian, investor tetap berhati-hati karena ketegangan yang belum sepenuhnya mereda berpotensi kembali memicu lonjakan harga energi global.
Pasar juga mencermati data inflasi Amerika Serikat yang akan dirilis dalam waktu dekat. Tingkat inflasi yang masih tinggi dapat membuat Federal Reserve mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama atau bahkan membuka peluang pengetatan kebijakan lebih lanjut.
Kondisi tersebut telah mendorong penguatan dolar AS dan kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS dalam beberapa pekan terakhir.
Melihat kombinasi faktor domestik dan eksternal tersebut, Ibrahim memperkirakan pergerakan rupiah pada perdagangan hari ini masih akan bergerak fluktuatif. Meski sempat menguat signifikan, ia memprediksi rupiah berpotensi ditutup melemah pada kisaran Rp18.050 hingga Rp18.100 per dolar AS.
Dengan kata lain, arah pergerakan rupiah dalam jangka pendek masih akan sangat dipengaruhi oleh keseimbangan antara kebijakan Bank Indonesia dan perkembangan ekonomi global, khususnya data inflasi AS serta arah kebijakan suku bunga The Fed.
























































