IHSG Ambles 2,53 Persen ke Level 5.692, Investor Panik Saat Rupiah dan Bursa Asia Bergejolak

KurasiNews.com – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali mengalami tekanan hebat pada perdagangan Jumat (5/6/2026). Setelah bergerak fluktuatif dalam beberapa hari terakhir, indeks acuan Bursa Efek Indonesia (BEI) akhirnya terjerembab lebih dalam hingga kehilangan lebih dari dua persen pada penutupan sesi pertama perdagangan.

Aksi jual yang terjadi hampir di berbagai sektor membuat IHSG terkoreksi tajam ke level 5.692,16. Penurunan ini semakin mempertegas tingginya kekhawatiran pelaku pasar terhadap berbagai sentimen yang berkembang, baik dari dalam negeri maupun global. Investor terlihat memilih mengamankan aset mereka di tengah ketidakpastian yang masih membayangi pasar keuangan.

Meski pasar saham tertekan, pergerakan nilai tukar rupiah justru menunjukkan arah berbeda. Mata uang Garuda berhasil mencatat penguatan tipis terhadap dolar Amerika Serikat (AS), memberikan sedikit sentimen positif di tengah tekanan yang melanda pasar modal nasional.

IHSG Terpukul, Kapitalisasi Pasar Tergerus

Pada penutupan sesi I perdagangan Jumat, IHSG tercatat berada di level 5.692,16 atau turun 147,627 poin setara 2,53 persen dibandingkan posisi sebelumnya. Koreksi tersebut menjadi salah satu penurunan terbesar yang terjadi dalam beberapa waktu terakhir.

Aktivitas transaksi di lantai bursa berlangsung sangat ramai. Nilai transaksi mencapai Rp21,09 triliun dengan volume perdagangan sebanyak 25,26 miliar lembar saham. Sementara itu, frekuensi transaksi tercatat mencapai 1,32 juta kali, mencerminkan tingginya aktivitas jual beli di tengah tekanan pasar.

Melemahnya IHSG menunjukkan bahwa investor masih cenderung berhati-hati terhadap prospek ekonomi global maupun domestik. Kekhawatiran terhadap arah suku bunga global, ketidakpastian geopolitik, serta volatilitas nilai tukar menjadi faktor yang membentuk sentimen negatif di pasar saham.

Di tengah tekanan tersebut, sejumlah saham masih mampu mencatatkan kinerja impresif dan masuk dalam daftar penguatan tertinggi atau top gainers.

Saham PT Maha Properti Indonesia Tbk (MPRO) menjadi pemimpin penguatan setelah melonjak 19,34 persen ke level 9.875. Posisi berikutnya ditempati PT Asuransi Bina Dana Arta Tbk (ABDA) yang naik 18,33 persen ke level 3.550.

Kemudian terdapat PT Kian Santang Muliatama Tbk (RGAS) yang menguat 13,86 persen ke level 115, PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) yang melonjak 13,45 persen ke posisi 1.560, serta PT Mutuagung Lestari Tbk (MUTU) yang naik 11,76 persen menjadi 114.

Deretan Saham yang Tertekan dan Perburuan Saham Favorit Investor

Di sisi lain, sejumlah emiten harus menanggung tekanan jual yang cukup besar. Saham PT Pacific Strategic Financial Tbk (APIC) menjadi saham dengan pelemahan terdalam setelah turun 14,88 persen ke level 515.

Selanjutnya, PT WEHA Transportasi Indonesia Tbk (WEHA) melemah 14,79 persen ke level 121. PT Alakasa Industrindo Tbk (ALKA) turun 14,69 persen menjadi 610, sementara PT Asia Pramulia Tbk (ASPR) terkoreksi 14,65 persen ke level 134.

Saham PT Citra Borneo Utama Tbk (CBUT) juga masuk dalam daftar top losers setelah merosot 14,63 persen ke posisi 525.

Meski IHSG mengalami tekanan besar, sejumlah saham unggulan tetap menjadi incaran investor. Saham PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) menjadi saham dengan nilai transaksi terbesar mencapai Rp2,69 triliun.

Posisi berikutnya ditempati saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) dengan nilai transaksi Rp1,74 triliun. Kemudian saham PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) mencatat transaksi Rp658,73 miliar.

Saham PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) membukukan transaksi Rp496,82 miliar, sedangkan saham PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) mencatat nilai transaksi Rp492,01 miliar.

Dari sisi volume perdagangan, saham PT Bumi Resources Tbk (BUMI) menjadi yang paling aktif dengan volume mencapai 18,22 juta lembar saham. Disusul saham TPIA sebanyak 17,63 juta lembar, PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) sebanyak 5,18 juta lembar, PT Bakrie & Brothers Tbk (BNBR) sebanyak 5,17 juta lembar, dan PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN) sebanyak 4,66 juta lembar.

Rupiah Menguat Tipis, Bursa Asia Mayoritas Melemah

Berbeda dengan pasar saham yang tertekan, nilai tukar rupiah menunjukkan pergerakan yang relatif lebih positif. Pada perdagangan yang sama, rupiah menguat sekitar 10,50 poin atau 0,06 persen terhadap dolar AS.

Mata uang Garuda tercatat berada di level Rp18.038 per dolar AS. Penguatan tersebut menjadi sinyal bahwa tekanan terhadap rupiah mulai mereda meski volatilitas pasar masih tinggi.

Sementara itu, mayoritas bursa saham Asia bergerak di zona merah. Data yang dihimpun dari Stockbit dan Yahoo Finance menunjukkan Indeks Nikkei 225 Jepang melemah 1,64 persen ke level 66.368,91.

Indeks Hang Seng Hong Kong juga turun 0,82 persen menjadi 25.047,83. Bursa Singapura melalui Indeks Straits Times terkoreksi 0,29 persen ke posisi 5.052,71.

Di tengah dominasi sentimen negatif kawasan, bursa China justru mampu bertahan di zona hijau. Indeks SSE Composite menguat 0,43 persen ke level 4.075,31.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa pasar keuangan regional masih dibayangi ketidakpastian yang tinggi. Dalam jangka pendek, arah pergerakan IHSG diperkirakan masih akan sangat dipengaruhi oleh perkembangan sentimen global, arus modal asing, serta stabilitas nilai tukar rupiah terhadap dolar AS.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *