Rupiah Sempat Rebound, Tapi Kembali Tertekan hingga Rp18.032 per Dolar AS, Ada Apa

KurasiNews.com – Nilai tukar rupiah sempat menunjukkan sinyal pemulihan pada awal perdagangan Jumat (5/6/2026). Setelah dibuka dalam kondisi tertekan, mata uang Garuda perlahan berbalik arah dan mencatat penguatan terhadap dolar Amerika Serikat (AS), memberikan harapan bagi pelaku pasar yang dalam beberapa hari terakhir dibayangi tekanan eksternal maupun domestik.

Pada perdagangan pagi, rupiah berhasil naik ke level Rp18.017 per dolar AS sekitar pukul 09.24 WIB. Posisi tersebut mengindikasikan penguatan sebesar 0,18 persen dibandingkan penutupan perdagangan sebelumnya yang berada di level Rp18.049 per dolar AS. Bahkan, pada saat itu rupiah tercatat sebagai mata uang dengan kinerja terbaik di kawasan Asia.

Namun optimisme tersebut tidak berlangsung lama. Menjelang siang hari, tekanan kembali muncul sehingga rupiah berbalik melemah. Berdasarkan data Bloomberg pada pukul 12.03 WIB, mata uang Indonesia tercatat berada di level Rp18.032,20 per dolar AS. Kondisi ini menunjukkan bahwa volatilitas pasar masih sangat tinggi dan arah pergerakan rupiah masih dipengaruhi berbagai sentimen global yang belum sepenuhnya mereda.

Rupiah Sempat Jadi yang Terkuat di Asia

Perjalanan rupiah pada perdagangan Jumat berlangsung cukup dinamis. Pada pembukaan pasar, mata uang domestik sempat melemah 0,08 persen ke posisi Rp18.062 per dolar AS. Namun tekanan tersebut perlahan berkurang seiring masuknya sentimen positif yang mendorong penguatan rupiah.

Hingga pukul 09.24 WIB, rupiah berhasil naik ke level Rp18.017 per dolar AS dan menjadi mata uang dengan apresiasi terbesar di Asia. Di bawah rupiah, peso Filipina mencatat kenaikan sebesar 0,13 persen terhadap dolar AS.

Sementara itu, yen Jepang ikut menguat 0,04 persen dan dolar Hong Kong naik tipis 0,01 persen. Di sisi lain, sejumlah mata uang kawasan masih berada dalam tekanan. Won Korea Selatan menjadi mata uang dengan pelemahan terdalam setelah terkoreksi 0,82 persen.

Ringgit Malaysia juga mengalami penurunan sebesar 0,5 persen, diikuti baht Thailand yang melemah 0,08 persen. Dolar Taiwan turun 0,07 persen, dolar Singapura terkoreksi 0,05 persen, sedangkan yuan China melemah tipis sebesar 0,01 persen.

Meski sempat menjadi yang terkuat di Asia, penguatan rupiah belum mampu bertahan lama karena tekanan fundamental masih membayangi pasar keuangan global.

Ketidakpastian Global Jadi Pemicu Tekanan

Tekanan terhadap rupiah tidak lepas dari menguatnya dolar AS yang kembali menjadi pilihan utama investor global di tengah meningkatnya ketidakpastian ekonomi dan geopolitik dunia.

Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan Institute for Development of Economics and Finance (Indef), M Rizal Taufikurahman, menilai kondisi tersebut membuat investor cenderung mengalihkan dana ke aset yang dianggap lebih aman atau safe haven.

“Dari sisi domestik, perlambatan pertumbuhan ekonomi, meningkatnya kebutuhan valas, serta berkurangnya aliran modal asing turut menekan nilai tukar rupiah dibandingkan mata uang regional lainnya,” ujar Rizal, Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan Indef.

Menurutnya, kombinasi faktor eksternal dan internal menjadi alasan mengapa rupiah masih sulit keluar dari tekanan meski sempat menunjukkan penguatan dalam jangka pendek.

Selain sentimen global, kebutuhan valuta asing yang meningkat di dalam negeri juga menjadi salah satu faktor yang memperbesar permintaan dolar AS. Situasi tersebut membuat ruang penguatan rupiah menjadi lebih terbatas.

Data penutupan perdagangan Kamis (4/6) juga menunjukkan tekanan yang cukup besar terhadap mata uang Indonesia. Saat itu kurs rupiah berada di level Rp14.051 per dolar Singapura, Rp12.872 per dolar Australia, Rp112,9 per yen Jepang, Rp20.959 per euro, serta Rp24.241 per poundsterling.

Proyeksi Hingga Akhir Juni dan Strategi Investor

Rizal memperkirakan nilai tukar rupiah masih akan bergerak fluktuatif dengan kecenderungan melemah hingga akhir Juni 2026. Meski demikian, ia menilai langkah stabilisasi yang dilakukan Bank Indonesia dapat membantu membatasi pelemahan yang lebih dalam.

Cadangan devisa yang masih memadai dinilai menjadi salah satu faktor penting dalam menjaga stabilitas nilai tukar di tengah tingginya gejolak pasar global.

“Pada saat nilai tukar sudah berada di level tinggi, risiko koreksi juga meningkat apabila terjadi perubahan sentimen global atau kebijakan moneter yang lebih agresif,” kata Rizal, Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan Indef.

Karena itu, pelaku pasar dan investor disarankan untuk menerapkan strategi diversifikasi portofolio guna mengurangi risiko akibat fluktuasi nilai tukar yang tinggi.

Rizal juga menyarankan agar investor mempertimbangkan instrumen valuta asing sebagai sarana lindung nilai atau hedging. Selain dolar AS, dolar Singapura dinilai cukup menarik karena memiliki fundamental ekonomi yang kuat serta tingkat volatilitas yang relatif lebih rendah dibandingkan sejumlah mata uang lainnya.

Dengan kondisi pasar yang masih penuh ketidakpastian, pergerakan rupiah dalam beberapa pekan ke depan diperkirakan akan sangat bergantung pada arah kebijakan moneter global, perkembangan geopolitik, serta efektivitas langkah stabilisasi yang ditempuh Bank Indonesia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *