Kemnaker Gandeng IJTI, Jurnalis Kampus Siap Kuasai AI dan Hadapi Era Digital
  • June 5, 2026
  • Veda Kiran Cakra
  • 0

KurasiNews.com – Perkembangan teknologi kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) mulai mengubah wajah berbagai profesi, termasuk dunia jurnalistik. Kemampuan mengolah data, membuat transkrip otomatis, hingga membantu proses riset kini semakin banyak didukung oleh teknologi AI. Namun, di balik kemudahan tersebut, kebutuhan akan sumber daya manusia yang mampu memanfaatkan teknologi secara bijak dan profesional justru semakin tinggi.

Di lingkungan perguruan tinggi, transformasi digital juga menghadirkan tantangan baru bagi para jurnalis kampus. Mereka tidak hanya dituntut mampu menghasilkan karya jurnalistik yang akurat dan berimbang, tetapi juga harus memahami perkembangan teknologi yang memengaruhi cara produksi, distribusi, hingga konsumsi informasi di era digital.

Kondisi tersebut membuat peningkatan kompetensi digital menjadi kebutuhan mendesak bagi generasi muda. Selain menguasai keterampilan jurnalistik dasar, mahasiswa kini perlu memahami pemanfaatan AI, literasi digital, dan dinamika dunia kerja modern agar mampu bersaing di tengah perubahan yang berlangsung sangat cepat.

Dalam upaya menjawab tantangan tersebut, Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker) bersama Ikatan Jurnalis Televisi Indonesia (IJTI) menjalin kerja sama strategis untuk meningkatkan kapasitas sumber daya manusia, khususnya jurnalis kampus, agar lebih siap menghadapi transformasi digital dan perkembangan teknologi kecerdasan buatan.

Komitmen tersebut ditandai dengan penandatanganan Nota Kesepahaman antara Sekretaris Jenderal Kemnaker, Cris Kuntadi, dan Ketua Umum IJTI, Herik Kurniawan, di Kantor Dewan Pers, Jakarta, Kamis (4/6/2026). Kesepakatan yang berlaku selama tiga tahun itu mencakup pengembangan kapasitas SDM, penguatan literasi ketenagakerjaan, serta pemanfaatan sarana dan prasarana pendukung.

Fokus Tingkatkan Kompetensi AI bagi Jurnalis Kampus

Sekretaris Jenderal Kemnaker, Cris Kuntadi, menegaskan bahwa media massa memiliki posisi strategis dalam menyampaikan informasi ketenagakerjaan yang akurat, edukatif, dan mudah dipahami masyarakat. Karena itu, kolaborasi dengan IJTI tidak hanya bertujuan memperluas jangkauan informasi publik, tetapi juga meningkatkan kualitas sumber daya manusia generasi muda.

“Fokus utama kerja sama ini adalah menyiapkan generasi muda, khususnya jurnalis kampus, agar memiliki kompetensi yang relevan dengan perkembangan teknologi, termasuk pemanfaatan AI. Di saat yang sama, kami ingin memperkuat edukasi ketenagakerjaan melalui publikasi yang informatif dan mudah dipahami masyarakat,” ujar Cris.

Menurutnya, perkembangan teknologi digital telah mengubah pola masyarakat dalam mengakses informasi. Bersamaan dengan itu, kebutuhan kompetensi di dunia kerja juga ikut bergeser. Kemampuan adaptasi terhadap teknologi menjadi faktor penting agar lulusan perguruan tinggi tetap memiliki daya saing tinggi di pasar kerja.

Karena itulah, peningkatan kapasitas melalui program pelatihan, pengembangan keterampilan, dan pembelajaran berbasis teknologi perlu dilakukan secara berkelanjutan.

Disrupsi Digital Butuh Upskilling dan Reskilling Berkelanjutan

Transformasi digital yang berlangsung saat ini tidak hanya memunculkan profesi baru, tetapi juga mengubah karakteristik pekerjaan yang sudah ada. Banyak pekerjaan kini membutuhkan kemampuan digital yang sebelumnya tidak menjadi syarat utama.

Cris menilai fenomena tersebut sebagai sebuah keniscayaan yang harus dihadapi dengan kesiapan kompetensi yang memadai.

“Kami di Kemnaker melihat bahwa disrupsi digital adalah keniscayaan yang harus dihadapi dengan kesiapan kompetensi. Kolaborasi dengan IJTI ini sangat strategis untuk melakukan upskilling dan reskilling secara berkelanjutan,” katanya.

Konsep upskilling dan reskilling menjadi semakin penting karena perkembangan teknologi berlangsung sangat cepat. Generasi muda dituntut tidak hanya menguasai satu keterampilan, tetapi juga mampu terus belajar dan beradaptasi terhadap perubahan.

Bagi jurnalis kampus, kemampuan memanfaatkan AI secara etis dan produktif dapat menjadi nilai tambah. Teknologi dapat membantu mempercepat proses kerja jurnalistik, namun tetap membutuhkan sentuhan manusia dalam proses verifikasi, analisis, serta menjaga akurasi informasi.

Karena itu, penguatan kapasitas yang dilakukan Kemnaker dan IJTI diharapkan mampu menghasilkan generasi jurnalis muda yang tidak hanya melek teknologi, tetapi juga memiliki integritas dan profesionalisme tinggi.

Mahasiswa Didorong Menjadi Agen Perubahan

Selain peningkatan kompetensi AI, kerja sama ini juga diarahkan untuk memperluas literasi ketenagakerjaan di kalangan mahasiswa dan masyarakat umum. Kemnaker berharap berbagai program dan layanan yang dimiliki pemerintah dapat lebih dikenal serta dimanfaatkan secara optimal oleh generasi muda.

Cris menjelaskan bahwa Kemnaker saat ini memiliki ekosistem layanan ketenagakerjaan digital bernama SiapKerja. Platform tersebut menyediakan layanan terintegrasi mulai dari peningkatan kompetensi, penempatan tenaga kerja, pengembangan usaha, hingga perlindungan dan jaminan sosial ketenagakerjaan.

Melalui sinergi dengan IJTI, informasi mengenai berbagai layanan tersebut diharapkan dapat tersampaikan lebih luas dan mudah dipahami oleh masyarakat, khususnya mahasiswa yang tengah mempersiapkan diri memasuki dunia kerja.

“Dengan demikian, para mahasiswa tidak hanya menjadi penyampai informasi, tetapi juga menjadi agen perubahan yang mampu mendorong terciptanya masyarakat yang lebih produktif, adaptif, dan berdaya saing,” ujarnya.

Kerja sama Kemnaker dan IJTI menjadi salah satu langkah konkret dalam mempersiapkan generasi muda menghadapi era digital. Di tengah pesatnya perkembangan AI dan transformasi dunia kerja, penguasaan teknologi, kemampuan komunikasi, serta pemahaman terhadap isu ketenagakerjaan menjadi bekal penting untuk membangun SDM Indonesia yang unggul dan kompetitif di masa depan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *