KurasiNews.com – Perjalanan Korea Selatan di Piala Dunia 2026 memang tidak berjalan mulus. Setelah membuka turnamen dengan kemenangan penting atas Ceko, Taegeuk Warriors harus menerima kenyataan pahit saat takluk 0-1 dari tuan rumah Meksiko pada laga kedua Grup A. Kekalahan tersebut membuat persaingan menuju fase gugur semakin ketat.
Meski demikian, hasil negatif itu belum mengubah keyakinan banyak pihak terhadap kekuatan Korea Selatan. Salah satu sosok yang tetap percaya pada potensi tim Negeri Ginseng adalah mantan pelatih mereka sekaligus eks juru taktik Timnas Indonesia, Shin Tae-yong.
Menurut Shin, performa Korea Selatan sejauh ini justru menunjukkan bahwa tim asuhan Hong Myung-bo memiliki kualitas untuk melangkah lebih jauh di turnamen. Ia menilai kekalahan dari Meksiko lebih disebabkan kurang maksimalnya penyelesaian akhir serta satu kesalahan fatal yang berujung gol lawan.
Korea Selatan Kalah Tipis Meski Tampil Dominan
Shin Tae-yong menyampaikan pandangannya saat hadir sebagai analis di studio TVRI Sport usai pertandingan Meksiko kontra Korea Selatan yang berlangsung di Estadio Akron, Zapopan, Jumat (19/6/2026) pagi WIB.
Dalam pertandingan tersebut, Korea Selatan sebenarnya mampu memberikan tekanan besar kepada tuan rumah. Statistik pertandingan menunjukkan Son Heung-min dan rekan-rekannya menguasai bola hingga 58 persen, sementara Meksiko hanya mencatatkan 42 persen penguasaan bola.
Tak hanya unggul dalam possession, Korea Selatan juga melepaskan sembilan percobaan tembakan dengan tiga di antaranya mengarah sebagai peluang berbahaya. Namun dominasi itu gagal dikonversi menjadi gol.
Sebaliknya, Meksiko mampu memanfaatkan satu momen penting pada awal babak kedua. Gol tunggal Luis Romo pada menit ke-50 lahir setelah kiper Korea Selatan, Seung-gyu Kim, gagal mengantisipasi bola dengan sempurna saat terjadi kemelut di depan gawang.
Kesalahan tersebut menjadi pembeda dalam laga yang berlangsung ketat. Skor 1-0 bertahan hingga peluit panjang dibunyikan dan memastikan Meksiko menjadi tim pertama dari Grup A yang mengamankan tiket ke babak 32 besar.
Meski kecewa dengan hasil akhir, Shin menilai permainan Korea Selatan layak mendapat apresiasi.
“Sayang sekali Korsel kalah 0-1, meski bermain dengan berani dan menekan. Peluang masih ada untuk lolos ke fase gugur,” ungkap Shin Tae-yong.
Menurut pelatih yang kini menangani Persija Jakarta itu, pendekatan agresif yang diterapkan Korea Selatan sudah berjalan cukup baik sepanjang pertandingan.
STY Soroti Penyelesaian Akhir yang Masih Menjadi Masalah
Dalam analisisnya, Shin Tae-yong menyoroti satu aspek yang menurutnya harus segera diperbaiki jika Korea Selatan ingin menjaga peluang lolos dari fase grup.
Ia menilai intensitas pressing dan organisasi permainan sudah berada di level yang baik. Namun, efektivitas saat berada di area pertahanan lawan masih menjadi pekerjaan rumah utama.
“Pressing sudah bagus, hanya saja perlu ditingkatkan lagi tembakan ke arah gawang lawan, karena itu peluang terdekat untuk mencetak gol,” tutur STY.
Pernyataan tersebut sejalan dengan jalannya pertandingan. Meski mampu mengontrol ritme permainan dan menekan lawan dalam banyak fase, Korea Selatan kesulitan mengubah peluang menjadi gol.
Beberapa kesempatan emas yang didapat Son Heung-min dan rekan-rekannya gagal dimanfaatkan secara maksimal. Situasi inilah yang membuat dominasi statistik tidak berbanding lurus dengan hasil akhir pertandingan.
Shin meyakini peningkatan kualitas penyelesaian akhir akan menjadi kunci utama bagi Korea Selatan saat menghadapi laga penentuan melawan Afrika Selatan pada pertandingan terakhir Grup A.
Jika mampu meraih kemenangan, peluang Taegeuk Warriors untuk melaju ke fase gugur masih sangat terbuka.
Sebut Skuad Korea Selatan Saat Ini sebagai Generasi Emas
Selain membahas pertandingan melawan Meksiko, Shin Tae-yong juga memberikan penilaian menarik mengenai kualitas skuad Korea Selatan saat ini.
Pelatih berusia 55 tahun tersebut pernah menangani Korea Selatan pada Piala Dunia 2018 di Rusia. Meski gagal lolos dari fase grup, tim asuhannya saat itu mencatat sejarah dengan mengalahkan juara bertahan Jerman 2-0 pada laga terakhir.
Namun menurut Shin, skuad yang dimiliki Hong Myung-bo sekarang justru lebih kuat dibandingkan tim yang pernah ia tangani delapan tahun lalu.
“Ini generasi emas Korsel ketimbang saat saya tangani, karena saat itu lima pemain pilar kami absen. Ini jauh lebih baik daripada skuad saya di 2018,” lanjut STY.
Ia melihat kombinasi pemain berpengalaman dan talenta muda membuat Korea Selatan memiliki fondasi yang lebih kokoh untuk bersaing di level tertinggi.
Shin bahkan berani memprediksi Son Heung-min dan kolega bukan hanya mampu menembus babak 16 besar, tetapi juga berpotensi melangkah lebih jauh apabila mampu memperbaiki efektivitas permainan.
“Melihat performa di dua pertandingan saya melihat tim ini bisa tembus babak 16 besar, bahkan bisa lebih,” beber pelatih Persija Jakarta itu.
Secara khusus, Shin juga menyoroti kondisi kapten tim Son Heung-min yang dinilai mengalami kelelahan fisik akibat padatnya jadwal kompetisi. Meski demikian, ia tetap yakin bintang Tottenham Hotspur tersebut masih menjadi sosok penting bagi tim.
“Untuk Son Heung-min, secara fisik kelelahan. Tapi dengan pengalamannya ia bisa memimpin Timnas Korsel dengan baik sejauh ini,” tandas STY.
Kini, Korea Selatan akan menghadapi laga hidup-mati melawan Afrika Selatan pada 25 Juni mendatang. Hasil pertandingan tersebut akan menentukan apakah optimisme Shin Tae-yong dapat menjadi kenyataan atau justru berakhir sebagai harapan yang belum terwujud di Piala Dunia 2026.




































