WHO Keluarkan Panduan Baru Ebola dan Marburg, Ini 5 Langkah Penting yang Bisa Menyelamatkan Nyawa Pasien

KurasiNews.com – Wabah penyakit menular berbahaya masih menjadi ancaman serius bagi kesehatan global. Dalam beberapa dekade terakhir, dunia berkali-kali dihadapkan pada kemunculan penyakit yang mampu menyebar cepat dan memiliki tingkat kematian tinggi. Dua di antaranya adalah Ebola dan Marburg, penyakit yang termasuk dalam kelompok filovirus dan dikenal sebagai salah satu infeksi paling mematikan di dunia.

Meski sering diawali gejala yang menyerupai flu biasa seperti demam, sakit kepala, dan nyeri otot, infeksi filovirus dapat berkembang sangat cepat menjadi kondisi yang mengancam jiwa. Karena itulah, para ahli kesehatan menekankan pentingnya deteksi dini, penanganan medis yang tepat, serta kesiapsiagaan fasilitas kesehatan dalam menghadapi potensi wabah.

Di tengah upaya Republik Demokratik Kongo menangani wabah Ebola yang dipicu virus Bundibugyo, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menerbitkan pedoman komprehensif pertama yang secara khusus mengatur tata laksana klinis seluruh penyakit filovirus, termasuk Ebola dan Marburg. Pedoman yang dirilis pada 17 Juni 2026 tersebut menjadi panduan global terbaru untuk meningkatkan peluang keselamatan pasien dan memperkuat respons kesehatan saat wabah terjadi.

Mengapa Ebola dan Marburg Sangat Berbahaya?

Virus Ebola dan Marburg bukan sekadar menyebabkan demam atau gangguan pernapasan ringan. Menurut Dosen Epidemiologi Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Airlangga, Laura Navika Yamani, virus Ebola mampu menyerang banyak sistem organ sekaligus.

“Virus Ebola dapat mengganggu fungsi hati, ginjal, sistem pembuluh darah, hingga sistem kekebalan tubuh. Pada kasus berat, pasien bisa mengalami kehilangan cairan dalam jumlah besar, gangguan sirkulasi darah, syok, kegagalan multi organ, dan berujung pada kematian,” jelas Laura.

Tingkat fatalitas Ebola dan Marburg juga tergolong sangat tinggi. Berdasarkan data WHO, angka kematian kasus dapat berkisar antara 25 persen hingga 90 persen pada wabah-wabah terburuk yang pernah terjadi.

Sejak virus Marburg pertama kali ditemukan pada 1967, tercatat sedikitnya 72 wabah Ebola dan Marburg telah terjadi di berbagai negara Afrika. Selain menimbulkan korban jiwa, wabah tersebut juga membawa dampak sosial, ekonomi, dan psikologis yang besar bagi masyarakat terdampak.

Pada fase awal, pasien biasanya mengalami demam tinggi, sakit kepala, nyeri otot, dan kelelahan. Namun kondisi dapat memburuk dengan cepat menjadi muntah hebat, diare berat, gangguan fungsi organ, hingga perdarahan internal maupun eksternal pada sebagian kasus.

Karena itu, WHO menegaskan bahwa perawatan suportif yang cepat dan tepat menjadi faktor penting untuk meningkatkan peluang hidup pasien, terutama karena beberapa jenis filovirus masih belum memiliki vaksin maupun terapi antivirus yang tersedia secara luas.

5 Rekomendasi Penting WHO untuk Menangani Ebola dan Marburg

Pedoman terbaru WHO memuat 16 rekomendasi berbasis bukti ilmiah. Berikut lima poin utama yang menjadi fokus dalam penanganan pasien filovirus:

1. Prioritaskan Pemeriksaan Laboratorium Sejak Dini

WHO merekomendasikan penggunaan tes laboratorium klinis secara teratur untuk memantau kondisi pasien. Pemeriksaan ini membantu tenaga medis mendeteksi komplikasi yang masih dapat diobati, seperti hipoglikemia, gangguan elektrolit, maupun masalah metabolisme lainnya.

Pemantauan laboratorium yang konsisten memungkinkan dokter mengambil keputusan lebih cepat sebelum kondisi pasien memburuk.

2. Tangani Dehidrasi dengan Cepat dan Akurat

Salah satu penyebab utama kematian pada pasien Ebola adalah kehilangan cairan dalam jumlah besar akibat muntah dan diare berat.

Karena itu, WHO menekankan pentingnya pemberian cairan sesegera mungkin melalui rehidrasi oral maupun infus intravena. Penanganan dehidrasi yang tepat terbukti mampu mengurangi risiko syok dan kegagalan organ.

3. Lakukan Penanganan Syok Secara Agresif

Pasien filovirus berisiko mengalami syok akibat infeksi berat yang menyebabkan tekanan darah turun drastis.

WHO merekomendasikan penggunaan cairan intravena dan obat-obatan vasoaktif secara dini apabila diperlukan. Selain itu, tenaga kesehatan harus rutin memantau tekanan darah, denyut nadi, saturasi oksigen, dan indikator perfusi jaringan untuk memastikan kondisi pasien tetap stabil.

4. Jangan Abaikan Infeksi Bakteri Sekunder

Pasien Ebola atau Marburg dapat mengalami infeksi tambahan akibat bakteri, termasuk kondisi berbahaya seperti sepsis.

WHO menegaskan bahwa bila terdapat indikasi infeksi bakteri, terapi antibiotik harus segera diberikan sesuai standar medis. Langkah ini penting untuk mencegah komplikasi yang dapat memperburuk kondisi pasien.

5. Berikan Pendampingan Setelah Pasien Sembuh

Perawatan tidak berhenti ketika pasien dinyatakan sembuh. WHO menyoroti pentingnya layanan tindak lanjut atau follow-up secara terstruktur.

Pendampingan pascapemulihan bertujuan meningkatkan kualitas hidup penyintas sekaligus memantau kemungkinan keberadaan virus yang masih bertahan dalam tubuh. Langkah ini juga penting untuk mencegah penularan lanjutan yang dapat muncul setelah pasien meninggalkan fasilitas kesehatan.

WHO: Perawatan Suportif Tetap Menjadi Kunci

Direktur Jenderal WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus, menegaskan bahwa pedoman baru ini merupakan bentuk pemanfaatan ilmu pengetahuan untuk melindungi masyarakat dari ancaman wabah mematikan.

“Pedoman baru ini adalah contoh sempurna bagaimana WHO memanfaatkan sains untuk melindungi dan merawat masyarakat dengan lebih baik selama wabah dan keadaan darurat kesehatan,” kata Tedros.

Ia juga menyoroti wabah Bundibugyo yang tengah berlangsung sebagai pengingat bahwa pasien membutuhkan pendekatan perawatan yang tidak hanya berorientasi pada penyakit, tetapi juga memperhatikan aspek kemanusiaan.

“Wabah virus Bundibugyo saat ini merupakan pengingat yang jelas akan perlunya perawatan medis yang cermat, holistik, dan berfokus pada individu, untuk menyelamatkan nyawa dan menjaga martabat manusia. Kami mendorong pemerintah dan otoritas untuk mengintegrasikan rekomendasi baru ini ke dalam kesiapsiagaan dan respons terhadap wabah,” ujarnya.

WHO menegaskan bahwa pengenalan kasus secara dini, rujukan cepat, dan perawatan suportif yang optimal tetap menjadi fondasi utama dalam penanganan Ebola maupun Marburg. Selain membantu mengurangi komplikasi, pendekatan tersebut juga menjadi dasar penting bagi pengembangan penelitian klinis dan terapi masa depan.

Dengan hadirnya pedoman baru ini, fasilitas kesehatan di berbagai negara diharapkan memiliki acuan yang lebih jelas untuk menghadapi ancaman filovirus, sehingga angka kematian dapat ditekan dan kualitas perawatan pasien semakin meningkat.

Leave a Reply