Gen Z Tinggalkan Spotify Fenomena iPod Klasik Kembali Naik Daun di Indonesia pada 2026

KurasiNews.com – Di tengah dominasi layanan streaming yang menawarkan jutaan lagu hanya dengan beberapa sentuhan jari, muncul fenomena yang cukup mengejutkan di kalangan generasi muda. Sejumlah anggota Generasi Z mulai meninggalkan kebiasaan mendengarkan musik melalui aplikasi streaming dan beralih ke perangkat yang sempat dianggap usang: iPod.

Sekilas, tren ini terdengar kontradiktif. Saat industri teknologi berlomba menghadirkan kecerdasan buatan, algoritma rekomendasi yang semakin canggih, serta konektivitas tanpa batas, sebagian anak muda justru tertarik menggunakan perangkat pemutar musik yang pertama kali populer lebih dari dua dekade lalu. Namun di balik keputusan tersebut, tersimpan perubahan cara pandang terhadap teknologi, kepemilikan digital, dan pengalaman menikmati musik.

Fenomena ini juga mencerminkan munculnya gelombang baru yang sering disebut sebagai nostalgia digital. Jika beberapa tahun lalu kamera digital lawas, kaset, piringan hitam, hingga ponsel lipat kembali diminati, kini giliran iPod yang memperoleh perhatian dari generasi yang sebagian besar bahkan tidak pernah mengalami masa kejayaan perangkat tersebut. Menariknya, tren ini tidak hanya terjadi di negara-negara Barat, tetapi mulai terlihat pula di Indonesia.

Dari Streaming ke Kepemilikan Musik Pribadi

Selama lebih dari satu dekade terakhir, layanan streaming telah mengubah cara masyarakat mengakses musik. Model berlangganan memungkinkan pengguna menikmati jutaan lagu tanpa harus membeli album secara fisik maupun digital.

Namun, sebagian pengguna muda mulai mempertanyakan konsep tersebut. Mereka menyadari bahwa musik yang didengarkan melalui layanan streaming pada dasarnya bukanlah milik mereka. Akses terhadap lagu bergantung pada langganan aktif, lisensi yang dimiliki platform, serta kebijakan perusahaan yang sewaktu-waktu dapat berubah.

Berbeda dengan itu, iPod menawarkan pengalaman yang lebih personal. Pengguna dapat mengunduh atau membeli lagu secara legal, kemudian menyimpannya langsung di perangkat. Dengan demikian, koleksi musik yang dimiliki tidak bergantung pada koneksi internet maupun keberlangsungan suatu layanan streaming.

Bagi sebagian Generasi Z, konsep kepemilikan digital ini terasa lebih memuaskan. Mereka dapat menyusun playlist sendiri, mengoleksi album favorit, hingga membangun perpustakaan musik pribadi tanpa campur tangan algoritma.

Selain itu, mendengarkan musik melalui iPod dianggap lebih disengaja atau deliberate. Pengguna memilih lagu secara sadar, bukan sekadar mengikuti rekomendasi otomatis yang muncul di beranda aplikasi.

Fenomena ini menunjukkan adanya perubahan preferensi di kalangan sebagian anak muda yang mulai menginginkan hubungan lebih dekat dengan karya musik yang mereka nikmati.

Gen Z Tinggalkan Spotify Fenomena iPod Klasik Kembali Naik Daun di Indonesia pada 2026
Gen Z Tinggalkan Spotify Fenomena iPod Klasik Kembali Naik Daun di Indonesia pada 2026

Digital Fatigue dan Keinginan untuk Lebih Fokus

Kebangkitan iPod juga tidak dapat dilepaskan dari fenomena digital fatigue atau kelelahan digital yang semakin banyak dibahas dalam beberapa tahun terakhir.

Saat ini hampir seluruh aktivitas harian terhubung dengan smartphone. Mulai dari pekerjaan, pendidikan, komunikasi, hiburan, hingga transaksi keuangan dilakukan melalui satu perangkat yang sama.

Akibatnya, banyak pengguna merasa kesulitan memisahkan waktu untuk benar-benar fokus menikmati musik tanpa gangguan notifikasi, pesan instan, media sosial, maupun berbagai aplikasi lain.

Dalam kondisi tersebut, iPod menawarkan sesuatu yang sederhana namun semakin langka: perangkat dengan satu fungsi utama.

Ketika mendengarkan musik menggunakan iPod, pengguna tidak tergoda membuka Instagram, TikTok, atau aplikasi percakapan. Tidak ada notifikasi yang tiba-tiba muncul di layar, tidak ada iklan yang menyela pengalaman mendengarkan, dan tidak ada dorongan untuk terus melakukan scrolling tanpa tujuan.

Banyak anggota komunitas iPod mengaku perangkat tersebut membantu mereka mengurangi ketergantungan terhadap smartphone sekaligus menciptakan pengalaman mendengarkan yang lebih fokus dan tenang.

Fenomena serupa sebenarnya juga terlihat pada meningkatnya minat terhadap kamera digital lawas, e-reader, serta perangkat teknologi minimalis yang hanya menjalankan fungsi tertentu.

Komunitas Modifikasi iPod Ikut Mendorong Popularitasnya

Salah satu faktor yang membuat iPod tetap relevan pada 2026 adalah berkembangnya komunitas modifikasi atau modding perangkat lawas.

Alih-alih menggunakan iPod dalam kondisi standar, banyak pengguna melakukan berbagai peningkatan agar perangkat tersebut sesuai dengan kebutuhan masa kini.

Modifikasi yang umum dilakukan antara lain mengganti baterai yang sudah menurun performanya, mengganti hard disk lama dengan SSD atau kartu memori berkapasitas besar, hingga memasang perangkat lunak alternatif yang memungkinkan kompatibilitas lebih luas dengan format audio modern.

Berkat berbagai modifikasi tersebut, iPod yang dirilis belasan tahun lalu dapat memiliki kapasitas penyimpanan hingga ratusan gigabyte, bahkan melebihi sebagian perangkat musik modern.

Komunitas modding iPod juga berkembang pesat melalui forum daring, media sosial, dan platform video pendek. Pengguna saling berbagi panduan perbaikan, rekomendasi komponen, serta pengalaman menggunakan perangkat yang sudah dihentikan produksinya sejak 2022.

Menurut berbagai laporan pasar barang bekas, permintaan terhadap iPod rekondisi terus meningkat dalam beberapa tahun terakhir. Penjualan perangkat bekas yang telah diperbarui bahkan mencatat pertumbuhan tahunan yang konsisten sejak 2022.

Meski demikian, para pengamat industri menilai tren ini masih berada dalam kategori niche atau pasar khusus. Dominasi layanan streaming diperkirakan tidak akan tergeser dalam waktu dekat karena platform tersebut tetap menjadi sarana utama distribusi musik bagi industri rekaman dan musisi.

Namun demikian, kebangkitan iPod memberikan pelajaran menarik bagi industri teknologi. Fenomena ini menunjukkan bahwa sebagian pengguna tidak selalu menginginkan lebih banyak fitur, lebih banyak notifikasi, atau lebih banyak algoritma. Sebaliknya, mereka mencari pengalaman yang lebih sederhana, lebih personal, dan memberikan kontrol yang lebih besar atas konten yang mereka konsumsi.

Empat tahun setelah Apple menghentikan produksinya, iPod justru menemukan audiens baru yang tidak pernah menjadi target awalnya. Di tangan Generasi Z, perangkat lawas tersebut berubah dari sekadar barang nostalgia menjadi simbol perlawanan terhadap kelelahan digital dan keinginan untuk menikmati musik secara lebih autentik.

Pada akhirnya, fenomena ini bukan hanya tentang iPod. Ini adalah gambaran bagaimana generasi muda mulai mempertanyakan hubungan mereka dengan teknologi modern dan mencari keseimbangan baru di tengah dunia yang semakin terkoneksi.

Leave a Reply