KurasiNews.com – Peringatan baru dari Organisasi Kesehatan Dunia atau World Health Organization kembali membuat publik global waspada terhadap ancaman penyakit zoonosis. Kali ini, perhatian dunia tertuju pada hantavirus, virus yang dapat menyebar melalui urine, air liur, hingga kotoran tikus yang terinfeksi.
WHO mengingatkan masyarakat agar tidak sembarangan membersihkan kotoran tikus karena tindakan tersebut justru dapat meningkatkan risiko penularan virus berbahaya itu.
Peringatan tersebut muncul di tengah meningkatnya perhatian internasional terhadap wabah hantavirus yang dikaitkan dengan kapal pesiar MV Hondius. Meski WHO menilai risiko kesehatan masyarakat secara global masih tergolong rendah, lembaga kesehatan dunia itu tetap melakukan pemantauan ketat karena kemungkinan munculnya kasus tambahan masih terbuka.
Situasi ini sekaligus menjadi pengingat bahwa ancaman penyakit yang berasal dari hewan pengerat masih nyata dan perlu diwaspadai.
Data dari Centers for Disease Control and Prevention menunjukkan bahwa beberapa jenis hantavirus di wilayah Amerika Utara dan Selatan dapat menyebabkan hantavirus pulmonary syndrome (HPS), yakni gangguan paru-paru berat dengan tingkat kematian mencapai sekitar 40 persen.
Penyakit ini umumnya diawali gejala mirip flu seperti demam, sakit kepala, nyeri otot, hingga kelelahan. Namun dalam kondisi lebih serius, penderita dapat mengalami sesak napas berat dan membutuhkan perawatan intensif di rumah sakit.
Cara Membersihkan Kotoran Tikus yang Benar Menurut WHO
WHO menegaskan bahwa partikel virus dapat menyebar ke udara ketika kotoran atau urine tikus yang telah mengering terganggu saat dibersihkan. Karena itu, masyarakat diminta menghindari membersihkan area terkontaminasi dengan cara disapu ataupun menggunakan vacuum cleaner.
Metode tersebut dinilai berbahaya karena dapat membuat partikel virus beterbangan dan terhirup manusia. Sebagai gantinya, WHO menyarankan agar area yang terkena kotoran tikus dibasahi terlebih dahulu menggunakan cairan disinfektan sebelum dibersihkan.
Selain itu, WHO membagikan sejumlah langkah pencegahan untuk membantu menekan risiko penularan hantavirus. Langkah tersebut antara lain menjaga kebersihan rumah dan tempat kerja, menutup celah yang menjadi akses masuk tikus, serta menyimpan makanan dalam wadah tertutup rapat agar tidak mengundang hewan pengerat.
Kebiasaan sederhana seperti rutin mencuci tangan setelah membersihkan area tertentu juga dinilai penting untuk membantu mengurangi risiko infeksi. Langkah-langkah preventif ini dianggap efektif karena hingga kini belum tersedia pengobatan khusus untuk hantavirus yang dapat diakses luas masyarakat.
Hantavirus Bisa Sebabkan Gangguan Paru-Paru dan Ginjal
CDC menjelaskan bahwa hantavirus merupakan kelompok virus yang dapat menyebabkan penyakit serius pada paru-paru maupun ginjal. Penularannya paling sering terjadi melalui paparan partikel udara yang telah terkontaminasi urine, air liur, atau kotoran tikus.
Peneliti dari Vaccine and Infectious Disease Organization, Bryce Warner, mengatakan bahwa sampai sekarang belum ada obat khusus maupun vaksin hantavirus yang tersedia secara luas. Penanganan pasien masih berfokus pada terapi suportif untuk membantu tubuh melawan infeksi.
Terapi tersebut meliputi pemberian oksigen, cairan infus, hingga penggunaan ventilator apabila pasien mengalami gangguan pernapasan berat. Karena itu, deteksi dini dan penanganan cepat menjadi faktor penting untuk meningkatkan peluang kesembuhan pasien.
Gejala awal hantavirus sering kali menyerupai penyakit flu biasa sehingga banyak orang terlambat menyadari infeksi. Padahal, dalam beberapa kasus, kondisi penderita dapat memburuk dengan cepat hanya dalam hitungan hari.
Pengembangan Vaksin Hantavirus Masih Terus Berjalan
Di tengah meningkatnya perhatian dunia terhadap hantavirus, penelitian vaksin masih terus dikembangkan di berbagai negara. Associate professor kimia dari University of Bath, Asel Sartbaeva, menyebut pengembangan vaksin hantavirus berjalan cukup lambat karena minimnya kepentingan komersial dibandingkan penyakit menular lain yang lebih luas penyebarannya.
Meski demikian, sejumlah lembaga penelitian dan perusahaan farmasi dunia mulai menunjukkan ketertarikan terhadap pengembangan vaksin tersebut. Salah satunya adalah Moderna yang diketahui tengah mengembangkan kandidat vaksin hantavirus bersama sejumlah mitra riset lainnya.
WHO menekankan bahwa kewaspadaan masyarakat tetap menjadi langkah utama dalam menghadapi ancaman hantavirus. Menjaga kebersihan lingkungan, menghindari kontak langsung dengan tikus, serta segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan apabila mengalami gejala mencurigakan menjadi langkah penting untuk mencegah dampak yang lebih serius.
Kasus yang dikaitkan dengan MV Hondius sekaligus menjadi pengingat bahwa penyakit menular dari hewan dapat muncul kapan saja, bahkan di lingkungan yang tidak terduga. Karena itu, edukasi mengenai cara penanganan yang benar terhadap area terkontaminasi tikus dinilai semakin penting untuk diketahui masyarakat luas.





