Hantavirus Kembali Jadi Sorotan, Seberapa Berbahaya Virus dari Tikus Ini Ini Penjelasan Ahli dan Fakta Terbarunya

KurasiNews.com – Kasus hantavirus kembali menjadi perhatian publik setelah muncul laporan pasien meninggal di Rumah Sakit Hasan Sadikin akibat infeksi virus tersebut. Kekhawatiran masyarakat semakin meningkat setelah Indonesia juga memantau kontak erat kasus hantavirus di kapal MV Hondius yang sempat dirawat di RSPI Sulianti Saroso.

Hantavirus sebenarnya bukan penyakit baru. Virus ini sudah lama dikenal di berbagai negara, termasuk Amerika Serikat, Korea Selatan, Argentina, hingga Chile.

Di Amerika Serikat, Centers for Disease Control and Prevention (CDC) mencatat hantavirus pulmonary syndrome (HPS) pertama kali dikenali pada 1993 di wilayah Four Corners.

Hingga kini, kasus sporadis masih terus ditemukan meski jumlahnya relatif rendah. Sementara di beberapa negara Amerika Selatan, strain Andes Virus menjadi perhatian karena memiliki kemampuan penularan antarmanusia dalam kondisi tertentu.

Menurut data Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO, hantavirus termasuk zoonosis, yakni penyakit yang ditularkan dari hewan ke manusia, terutama melalui hewan pengerat seperti tikus.

Penularan biasanya terjadi ketika manusia menghirup partikel dari urine, air liur, atau kotoran tikus yang telah mengering dan bercampur dengan debu. Meski demikian, ahli menegaskan penyebaran hantavirus tidak semudah virus pernapasan seperti influenza atau COVID-19.

Hantavirus Berasal dari Tikus dan Hewan Pengerat

Peneliti Pusat Riset Kesehatan Masyarakat dan Gizi BRIN, Ristiyanto, menjelaskan bahwa tikus merupakan reservoir utama hantavirus. Hewan pengerat tersebut dapat membawa virus tanpa menunjukkan gejala sakit, lalu menularkannya melalui kotoran, urine, atau air liur.

Risiko penularan meningkat di kawasan dengan sanitasi buruk dan populasi tikus tinggi, seperti permukiman padat, gudang penyimpanan, pasar tradisional, hingga pelabuhan. Karena itu, pengendalian populasi tikus menjadi langkah utama untuk menekan penyebaran hantavirus.

Ristiyanto juga menegaskan bahwa kucing yang memangsa tikus terinfeksi memang berpotensi ikut terpapar virus. Namun hingga saat ini, belum ada bukti bahwa kucing dapat menularkan hantavirus kembali kepada manusia ataupun hewan lain.

Menurutnya, kucing tergolong dead-end host atau inang akhir, sama seperti manusia. Artinya, virus tidak berkembang cukup lama di tubuh kucing untuk kemudian menyebar kembali.

“Sejauh ini belum ada laporan kucing menularkan hantavirus karena diduga kucing merupakan inang akhir dari hantavirus,” jelas Ristiyanto dalam webinar kesehatan, Sabtu (16/5/2026).

Di tingkat global, penelitian serupa juga pernah dilakukan di Eropa dan Amerika Utara. Sejumlah studi menemukan hewan peliharaan dapat memiliki antibodi hantavirus, tetapi tidak terbukti menjadi sumber penularan utama kepada manusia.

Jawa Tengah Minta Warga Waspada tapi Tidak Panik

Pemerintah Provinsi Jawa Tengah melalui Dinas Kesehatan mengimbau masyarakat agar tetap tenang namun meningkatkan kewaspadaan terhadap hantavirus.

Kepala Dinas Kesehatan Jawa Tengah, Zulfachmi Wahab, mengatakan bahwa hingga Mei 2026 belum ditemukan kasus positif baru di wilayah Jawa Tengah. Kasus terakhir tercatat pada 2023 di kawasan pelabuhan Kabupaten Demak.

Menurut Zulfachmi, area dengan populasi tikus tinggi memang menjadi lokasi yang perlu mendapat perhatian khusus karena berpotensi menjadi tempat penyebaran virus.

Ia menjelaskan bahwa gejala hantavirus umumnya menyerang sistem pernapasan dan ginjal. Keluhan awal bisa berupa demam, nyeri dada, nyeri perut, gangguan buang air kecil, hingga muncul bercak merah pada mata.

Pada kondisi berat, penyakit ini dapat berkembang menjadi perdarahan dan gagal ginjal. Karena itu, masyarakat diminta segera memeriksakan diri apabila mengalami gejala yang mencurigakan.

Diagnosis hantavirus sendiri harus dipastikan melalui pemeriksaan PCR dan serologi di rumah sakit rujukan. Untuk memperkuat kesiapsiagaan, Dinas Kesehatan Jawa Tengah telah mengedukasi fasilitas kesehatan hingga tingkat puskesmas terkait deteksi dini hantavirus.

Sebanyak delapan rumah sakit milik Pemprov Jawa Tengah juga telah disiagakan untuk penanganan kasus yang mengarah pada infeksi hantavirus.

Pengendalian Tikus Jadi Kunci Pencegahan

BRIN mencatat sekitar 20 persen tikus yang tertangkap dalam surveilans berpotensi membawa penyakit seperti hantavirus atau leptospirosis. Angka tersebut jauh di atas standar baku mutu lingkungan Kementerian Kesehatan yang menetapkan kepadatan tikus ideal di permukiman seharusnya kurang dari 1 persen.

Namun di lapangan, rata-rata kepadatan tikus di sejumlah kawasan permukiman masih mencapai sekitar 5 persen. Kondisi ini menunjukkan risiko penularan penyakit dari hewan pengerat masih cukup tinggi.

Ristiyanto menilai pengendalian tikus tidak bisa dilakukan hanya oleh satu rumah tangga. Menurutnya, langkah tersebut harus dilakukan secara kolektif di tingkat komunitas agar efektif.

Selain memasang perangkap tikus, masyarakat juga disarankan memperbaiki sanitasi lingkungan, menutup celah masuk tikus ke rumah, serta membersihkan area terkontaminasi dengan prosedur aman menggunakan alat pelindung diri.

Penggunaan rodentisida pun perlu diawasi karena tikus dapat mengalami bait shyness atau kondisi jera terhadap umpan beracun tertentu sehingga pengendalian menjadi kurang efektif.

Sementara itu, hingga kini belum tersedia vaksin khusus untuk hantavirus. Namun para ahli menegaskan peluang kesembuhan akan jauh lebih tinggi apabila penyakit cepat dikenali dan segera ditangani secara medis.

Karena itu, edukasi masyarakat mengenai kebersihan lingkungan dan deteksi dini gejala menjadi langkah penting untuk mencegah penyebaran hantavirus di Indonesia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *