Kurasinews.com – Seberapa penting sebenarnya Selat Hormuz bagi ketahanan energi global? Jalur laut sempit di mulut Teluk Persia ini bukan sekadar rute pelayaran biasa. Ia adalah “keran” utama distribusi minyak dunia.
Sekitar seperlima pasokan minyak dan gas global melintas di perairan ini setiap hari. Ketika konflik memanas, nama Selat Hormuz hampir selalu muncul sebagai titik paling rawan yang bisa mengguncang ekonomi dunia.
Dalam eskalasi perang antara Amerika Serikat dan Iran, klaim penguasaan atas Selat Hormuz menjadi isu strategis.
Iran berada di sisi utara selat, sementara Oman dan Uni Emirat Arab berada di sisi selatan. Setiap gangguan di koridor selebar sekitar 33 kilometer di titik tersempitnya itu berpotensi langsung mendongkrak harga energi global.
Bagi dunia yang masih bergantung pada minyak Timur Tengah, Selat Hormuz adalah urat nadi yang tak tergantikan.
Jalur Sempit, Dampak Global
Selat Hormuz menghubungkan Teluk Persia dengan Laut Arab. Meski pintu masuknya sekitar 50 kilometer, pada titik tersempitnya lebarnya hanya 33 kilometer. Namun jalur ini cukup dilalui kapal tanker raksasa pengangkut minyak mentah terbesar di dunia.
Setiap hari, sekitar 20 juta barel minyak melewati selat ini. Data Badan Informasi Energi AS (EIA) memperkirakan nilai perdagangan energi yang melintasinya mencapai hampir 600 miliar dolar AS per tahun.
Minyak tersebut berasal dari Arab Saudi, Irak, Kuwait, Qatar, Bahrain, Uni Emirat Arab, serta Iran, dan sebagian besar dikirim ke Asia.
Hakan Kaya, manajer portofolio senior dari Neuberger Berman, menilai gangguan singkat masih bisa ditoleransi pasar.
Namun ia mengingatkan, jika penutupan penuh atau hampir penuh berlangsung sebulan atau lebih, harga minyak mentah yang sebelumnya berada di atas 75 dolar AS bisa melonjak “jauh di atas angka tiga digit”. Bahkan harga gas alam Eropa berpotensi kembali ke level krisis seperti tahun 2022.
Kekhawatiran itu bukan tanpa dasar. Per Senin (02/03), harga minyak mentah Brent sempat menyentuh 82 dolar AS per barel setelah tiga kapal diserang di dekat Selat Hormuz. Reuters melaporkan sekitar 150 kapal tanker tertahan akibat situasi keamanan yang memburuk.
Ancaman Iran dan Efek Domino ke Dunia
Ketegangan meningkat setelah serangan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran. Seorang jenderal Iran, Sardar Jabbari, bahkan menyatakan Teheran “tidak akan membiarkan setetes minyak pun meninggalkan wilayah tersebut”. Ancaman itu memicu ketidakpastian besar di pasar global.
Analis utama Global Risk Management, Arne Lohmann Rasmussen, mengatakan kepada CBS News bahwa secara de facto selat tersebut bisa dianggap tertutup.
“Kapal bisa diserang, lalu kapal tidak bisa mendapatkan asuransi atau harganya sangat mahal. Jadi kapal-kapal harus menunggu hingga situasi keamanan membaik. Jika pasokan minyak dan gas dari selat terputus, hal itu akan memiliki dampak signifikan bagi pasar,” ujarnya.
Meski belum ada blokade fisik total, ancaman drone dan rudal membuat kapal tanker enggan melintas. Biaya sewa kapal tanker raksasa dari Timur Tengah ke China bahkan melonjak hampir dua kali lipat dalam sepekan, menembus lebih dari 400.000 dolar AS per hari—rekor tertinggi menurut data London Stock Exchange Group.
Dampaknya paling terasa di Asia. Sekitar 82 persen minyak mentah dan kondensat yang keluar dari Selat Hormuz pada 2022 ditujukan ke negara-negara Asia.
China, India, dan Jepang menjadi importir utama yang sangat bergantung pada jalur ini. China sendiri diperkirakan membeli sekitar 90 persen minyak ekspor Iran untuk mendukung industri manufakturnya. Jika harga minyak melonjak, biaya produksi naik dan harga barang global ikut terdorong.
Bukan hanya negara pengimpor yang terpukul. Negara Teluk seperti Arab Saudi yang ekonominya bertumpu pada ekspor energi juga terancam.
Iran sendiri mengekspor sekitar 1,7 juta barel per hari menurut Badan Energi Internasional (IEA), dengan pendapatan minyak tahun fiskal terakhir mencapai 67 miliar dolar AS—tertinggi dalam satu dekade berdasarkan estimasi Bank Sentral Iran.
Bisakah Blokade Dihindari?
Secara hukum internasional, negara dapat mengendalikan perairan teritorial hingga 12 mil laut dari garis pantainya. Pada titik tersempit, jalur pelayaran Selat Hormuz berada dalam wilayah Iran dan Oman.
Para pakar menilai Iran bisa memblokade selat dengan menanam ranjau laut menggunakan kapal cepat dan kapal selam, atau melancarkan serangan dari Angkatan Laut reguler maupun Korps Garda Revolusi Islam (IRGC).
Namun langkah tersebut berisiko memicu respons militer Amerika Serikat. Presiden AS, Donald Trump, sebelumnya menyatakan salah satu tujuannya adalah menghancurkan kekuatan Angkatan Laut Iran.
Sejarah menunjukkan, pada era “perang tanker” dalam konflik Iran-Irak 1980-an, AS pernah mengawal kapal-kapal minyak melalui Teluk Persia untuk menjaga kelancaran distribusi energi.
Untuk mengurangi ketergantungan, negara-negara Teluk telah mengembangkan rute alternatif. Arab Saudi memiliki pipa sepanjang 1.200 km dengan kapasitas hingga 5 juta barel per hari. Uni Emirat Arab juga mengoperasikan pipa dari ladang minyak darat ke pelabuhan Fujairah dengan kapasitas minimal 1,5 juta barel per hari.
Meski demikian, Reuters mencatat pengalihan melalui jalur alternatif tetap berpotensi mengurangi pasokan global sebesar 8–10 juta barel per hari jika Selat Hormuz benar-benar ditutup.
Konflik Iran-Amerika bukan sekadar ketegangan regional. Ia berpotensi menjadi krisis energi global yang memicu lonjakan harga minyak, gas, biaya logistik, hingga harga barang konsumsi di seluruh dunia.
Dalam ekonomi yang saling terhubung, gangguan di satu selat sempit bisa mengguncang stabilitas pasar internasional. Selat Hormuz sekali lagi membuktikan dirinya sebagai titik krusial yang menentukan denyut nadi energi global. (VK)





