KurasiNews.com – Kompetisi basket profesional tidak hanya berbicara soal kemenangan dan trofi. Di balik setiap musim, ada proses panjang membangun tim, menghadapi cedera, beradaptasi dengan perubahan strategi, hingga menjaga mental para pemain ketika hasil di lapangan tidak berjalan sesuai harapan. Hal itulah yang dialami RANS Simba Bogor sepanjang gelaran IBL GoPay 2026.
Perjalanan sebuah klub menuju level elite juga sering kali tidak berlangsung mulus. Di liga-liga basket maju seperti NBA Amerika Serikat, banyak tim membutuhkan beberapa musim untuk menemukan komposisi ideal sebelum mampu bersaing memperebutkan gelar juara. Tim seperti Oklahoma City Thunder atau Minnesota Timberwolves, misalnya, harus melalui fase pembangunan skuad yang panjang sebelum menjadi penantang serius di kompetisi tertinggi.
Situasi serupa terlihat pada RANS Simba Bogor musim ini. Meski berhasil menembus babak playoff, tim asal Kota Hujan tersebut akhirnya harus mengakhiri perjuangan lebih cepat setelah dikalahkan Pelita Jaya Basketball Jakarta. Hasil tersebut sekaligus menjadi bahan evaluasi penting bagi manajemen dan jajaran pelatih untuk menyusun kekuatan yang lebih kompetitif pada musim mendatang.
Langkah RANS Simba Terhenti di Putaran Pertama
RANS Simba Bogor harus menerima kenyataan pahit setelah tersingkir pada putaran pertama Playoffs IBL GoPay 2026. Mereka gagal melewati hadangan Pelita Jaya Basketball Jakarta yang tampil dominan dan menyapu kemenangan dalam dua pertandingan beruntun.
Meski gagal melangkah lebih jauh, pencapaian menembus fase playoff tetap menjadi hasil yang patut diapresiasi mengingat berbagai kendala yang dihadapi tim sepanjang musim reguler.
Pelatih kepala RANS Simba Bogor, Antonius Joko Endratmo, mengakui perjalanan timnya musim ini tidak mudah sejak awal kompetisi.
“Musim ini memang berat di awal,” kata Antonius Joko Endratmo usai timnya dipastikan tersingkir dari babak playoff.
Menurutnya, berbagai perubahan yang terjadi sepanjang musim membuat tim harus bekerja ekstra keras untuk menjaga konsistensi permainan dan mental para pemain.
Tiga Kali Ganti Pelatih Jadi Tantangan Besar
Salah satu hambatan terbesar yang dihadapi RANS musim ini adalah pergantian pelatih yang terjadi hingga tiga kali.
Pada awal musim, tim dipimpin oleh Bryan Rowsom. Setelah itu posisi pelatih kepala beralih kepada Agus Pamungkas Batbual. Kemudian Antonius Joko Endratmo yang sebelumnya meninggalkan Tangerang Hawks Basketball ditunjuk sebagai Direktur Teknik sebelum akhirnya mengambil alih kursi pelatih kepala dalam sembilan pertandingan terakhir musim reguler.
Pergantian kepemimpinan yang berulang membuat para pemain harus terus menyesuaikan diri dengan sistem permainan yang berbeda.
“Season ini kami memang berat di awal. Kami struggle. Ada juga pergantian pelatih sampai tiga kali, dan saya yang terakhir,” jelas Coach Joko.
Ia menambahkan bahwa tugasnya bukan hanya mengejar kemenangan dalam waktu singkat, tetapi juga membangun kembali kepercayaan diri serta mental bertanding pemain.
“Dengan sisa sembilan pertandingan yang saya pegang, bukan hanya tentang kemenangan tetapi menaikkan mentalitas pemain,” ujarnya.
Dalam dunia olahraga profesional, pergantian pelatih yang terlalu sering memang kerap memengaruhi performa tim. Setiap pelatih membawa filosofi, strategi, dan pendekatan berbeda yang membutuhkan waktu adaptasi. Akibatnya, konsistensi permainan sering kali sulit tercapai dalam jangka pendek.
Coach Joko menilai kondisi tersebut juga dirasakan oleh para pemain RANS sepanjang musim ini.
Menurutnya, setiap pergantian pelatih memunculkan tuntutan penyesuaian baru sehingga performa tim cenderung mengalami naik turun.
Kekurangan Point Guard Jadi Fokus Pembenahan
Di balik berbagai evaluasi yang dilakukan, Coach Joko menyoroti satu aspek yang menurutnya sangat krusial untuk diperbaiki pada musim depan, yakni posisi point guard.
Menurut dia, RANS membutuhkan pemain yang mampu mengatur tempo permainan, mengambil keputusan di momen penting, sekaligus menjadi penghubung utama antara strategi pelatih dan eksekusi di lapangan.
“Kami butuh point guard. Pemain yang bisa benar-benar mengontrol permainan. Real point guard yang bisa mengendalikan arah permainan kami,” tegasnya.
Ia menjelaskan, sejumlah kekalahan yang dialami RANS musim ini justru terjadi pada menit-menit akhir pertandingan ketika tim kesulitan mengontrol ritme permainan dan membuat keputusan yang tepat dalam situasi tekanan tinggi.
“Karena beberapa kekalahan kami musim ini justru terjadi di menit-menit akhir, di mana kami tidak bisa mengendalikan jalannya permainan,” pungkas Coach Joko.
Meski gagal memenuhi target lebih tinggi di playoff, RANS Simba Bogor memilih tidak larut dalam kekecewaan. Evaluasi menyeluruh akan dilakukan untuk mempersiapkan tim menghadapi musim berikutnya.
Dengan fondasi pemain yang dimiliki saat ini dan pengalaman menghadapi musim yang penuh tantangan, RANS memiliki peluang untuk bangkit. Pembenahan komposisi skuad, terutama pada posisi point guard, diprediksi menjadi prioritas utama agar mereka mampu bersaing lebih konsisten di papan atas IBL pada musim mendatang.
















