Che Cupumanik Rilis Single Luka Kolektif. Foto: Istimewa
  • July 6, 2026
  • Fikri Achmad
  • 0

Jakarta, KurasiNews.com Dunia digital yang serba terhubung saat ini telah mengubah pola pikir dan prilaku manusia, banyak orang sedang menghadapi luka yang sama—terjebak dalam ritme algoritma, kehilangan ruang sunyi, dan perlahan menjauh dari kemanusiaannya sendiri.

Berawal dari keresahan tersebut, musisi, penulis, sekaligus seniman Che Cupumanik merilis karya terbarunya bertajuk Luka Kolektif.

Menariknya di balik lagu berdurasi beberapa menit itu, tersimpan proses kreatif panjang, penuh eksplorasi, diskusi, hingga momen-momen spontan yang memperlihatkan eratnya kolaborasi antar seniman.

Dalam proses produksinya, Che Cupumanik bekerja sama dengan Ali Hamzah sebagai produser dan Adi Tamtomo sebagai programmer drum serta electronic percussion.

Baca Juga: Penuh Nostalgia, Musisi Legendaris Obbie Messakh, Ussy Pieters, hingga Fenty Nur Nyanyi Bersama di Legacy in Harmony

Tim produksi juga memastikan karya Luka Kolektif tetap terdengar sebagai karya seorang solois, bukan musik yang berkarakter band.

Adi Tamtomo menyisipkan berbagai elemen sampling digital secara halus sehingga tidak mendominasi lagu, tetapi mampu memperkaya atmosfer emosional yang dibangun sepanjang komposisi.

Referensi musik yang digunakan dikolaborasi berbagai spektrum genre. Mulai dari tekstur elektronik khas Telefon Tel Aviv, nuansa gelap milik Crosses—proyek sampingan Chino Moreno—hingga sentuhan pop elegan ala KLa Project dan dinamika emosional yang mengingatkan pada karya-karya Coldplay.

Sementara, Produser Ali Hamzah mengungkapkan bahwa salah satu tantangan terbesar dalam produksi lagu ini justru berada pada departemen drum dan perkusi.

Menurut Ali, di titik inilah peran Adi Tamomo menjadi sangat penting dengan wawasan musik luas lintas genre, Adi mulai membangun ulang karakter ritmis lagu melalui detail-detail kecil, mulai dari pemilihan loops, pola ketukan, hingga pengaturan velocity yang presisi.

Baca Juga: Haji Bolot Jalani Perawatan Intensif Akibat Serangan Jantung, Andre Taulany Minta Doa

“Pendekatan tersebut berhasil menciptakan fondasi musik yang lembut, atmosferik, sekaligus modern, sehingga emosi lagu dapat mengalir secara natural,” ujar dia dalam keterangannya yang diterima KurasiNews.com, Senin (6/7/2026).

Tak hanya mengurus aransemen musik, Ali Hamzah dan Adi Tamtomo juga bertindak sebagai vocal director selama proses rekaman.

Lagu Menggambarkan Fenomena Sosial

Ali Hamzah juga mengungkapkan Luka Kolektif menjadi salah satu lagu yang memberikan pengalaman personal selama proses produksinya.

Dia mengaku pernah mendengarkan versi awal lagu tersebut saat berada di tengah keramaian penumpang dalam LRT sepulang bekerja yang sibuk bermain gawai.

Menurutnya, momen itu membuatnya menyadari bagaimana teknologi perlahan mengubah manusia menjadi individu-individu yang hidup dalam ruang masing-masing, terhubung secara digital namun semakin terisolasi secara emosional.

“Pengalaman ini semakin menguatkan keyakinannya bahwa lagu ini mampu menangkap realitas sosial yang sedang dialami banyak orang,” terangnya.

Selama produksi berlangsung, Luka Kolektif juga mengalami proses penyempurnaan tiga kali perubahan struktur dan aransemen demi menemukan keseimbangan antara nuansa mellow, kekuatan lirik, dan perjalanan emosinya.

“Setiap perubahan dilakukan agar pesan lagu dapat tersampaikan secara lebih utuh kepada pendengar,” ujar dia.

Baca Juga: Kekasih Sarwendah Selama Ini Viral Disebut CEO, Perusahaan Ungkap Fakta Sebenarnya soal Giorgio Antonio

Selain itu, Che Cupumanik menambahkan, hadiah terbesar dari perilisan Luka Kolektif bukanlah angka streaming maupun popularitas.

Dia berharap lagu ini mampu membuat pendengar merasa bahwa keresahan yang mereka alami bukanlah sesuatu yang harus ditanggung sendirian,” tegasnya.

Adapun, single yang dirilis ini bersamaan dengan buku Luka Kolektif Manusia Digital: 30 Esai Menolak Mati dalam Algoritma.

Melalui dua medium yang saling melengkapi ini diharapkan hadir sebagai refleksi mendalam mengenai relasi manusia dengan teknologi, media sosial, dan algoritma yang semakin membentuk kehidupan sehari-hari.

Che Cupumanik mengajak publik untuk berhenti sejenak, mendengarkan, membaca, lalu kembali mempertanyakan hubungan manusia dengan teknologi di era digital saat ini.

“Luka Kolektif bukan sekadar lagu pendamping buku. Keduanya lahir sebagai satu karya utuh yang mengajak publik tidak hanya membaca gagasan, tetapi juga merasakan emosinya melalui musik,” pungkas dia.(*)